Sabtu, 09 Mei 2015

Laporan Magang



BAB I
PENDAHULUAN

1.1.            Latar Belakang
Ternak sapi adalah salah satu jenis ternak yang potensial dan mempunyai prospek untuk menghasilkan  daging dan susu. Daging sapi sangat digemari, akan tetapi pemeliharaan sangat kurang. Hewan ternak juga mempunyai peranan yang sangat penting dalam lingkungan masyarakat kita, karena sering dimanfaatkan sebagai hewan kurban pada hari raya yang permintaanya selalu meningkat setiap tahun, akan tetapi permintaan yang tinggi tersebut tidak diiringi dengan ketersediaan bibit yang cukup baik.
Instansi pemerintah  salah satu yang berfungsi menyediakan bibit unggul sapi potong di Indonesia adalah Balai Pembibitan Ternak Unggul dan Hijauan Pakan Ternak (BPTU-HPT) Padang Mengatas Sumatra Barat. BPTU-HPT Padang Mengatas pertama kali didirikan oleh pemerintahan Hindia Belanda pada tahun 1916. Ternak yang dikembangkan adalah kuda dan pada tahun 1935 didatangkan sapi zebu dari bangsa Benggala India untuk dikembangbiakan kepada BPTU-HPT. Pada tahun 1950 oleh wakil presiden Dr. Moh. Hatta dipugar kembali dan tahun 1961-1953 dijadikan sebagai stasiun peternakan pemerintahan dan diberi nama Induk Taman Ternak (ITT) Padang Mengatas. Pada tahun 1955 ITT Padang Mengatas merupakan stasiun peternakan yang terbesar di Asia Tenggara, dimana ternak yang dipelihara adalah ternak kuda, sapi, kambing dan ayam. Tahun 1958 - 1961 terjadi pergolakan Pemerintahan Revolusioner Republik Indonesia (PRRI), dan lokasi ITT Padang Mengatas dijadikan sebagai basis pertahanan PRRI sehingga ITT Padang Mengatas rusak berat. Pada tahun 1961 Induk Taman Ternak (ITT) Padang Mengatas dibenahi kembali oleh pemerintah daerah Sumatra Barat. Pada tahun 1973 - 1974 pemerintah Jerman mengadakan kajian di ITT Padang Mengatas maka pada tahun 1974 - 1978 dilakukan kerjasama pembangunan kembali ITT Padang Mengatas antara pemerintah Republik Indonesia (RI) dan Jerman melalui Proyek Agriculture Development Project (ADP). Tahun 1974 proyek ADP berakhir dan diserahkan kepada Departemen Pertanian dengan nama Balai Pembibitan Ternak – Hijauan Pakan Ternak (BPT – HPT) Padang Mengatas sesuai dengan SK Menteri Pertanian RI No. 313/Kpts/Org/1978 dengan wilayah kerja 3 propinsi (Sumatera Barat, Riau, dan Jambi). Tahun 1978  BPT–HPT Padang Mengatas dibiayai oleh Pemerintah Daerah Sumatera Barat dan pemerintah pusat dan pada tahun 1985 seluruh pembiayaan diambil pemerintah pusat. Berdasarkan keputusan Menteri Pertanian Republik Indonesia No. 292/Kpts/OT.210/4/2002 tanggal 16 April 2002 berubah nama menjadi Balai Pembibitan Ternak Unggul (BPTU) Sapi Potong Padang Mengatas dengan wilayah kerja meliputi seluruh propinsi di Indonesia.
BPTU-HPT Padang  Mengatas berada di kaki gunung Sago,  Padang Mengatas, Kecamatan Luhak, Kabupaten Limapuluh Kota, Provinsi Sumatera Barat. Berjarak kurang lebih 12 km dari Kota Payakumbuh dan lebih kurang 136 km dari Kota Padang. Luas kawasan BPTU-HPT Padang Mengatas adalah 280 ha, 268 ha merupakan lapangan rumput dan pastura, 12 ha untuk fasilitas yang lainnya. Tanah ini milik negara, sertifikat hak pakai kementrian pertanian No.5 tahun 1997.

1.2.      Tujuan
a)      Mengetahui manajemen pemeliharaan ternak sapi potong dan hijauan pakan ternak di BPTU-HPT Padang Mengatas.
b)      Mengetahui permasalahan yang dihadapi dalam manajemen pemeliharaan ternak sapi potong  dan hijauan pakan ternak yang ada BPTU-HPT Padang Mengatas.
c)      Membandingkan teori dan kondisi nyata di lapangan.

1.3.      Manfaat
a)      Mahasiswa mendapatkan gambaran yang lebih jelas dan kongkrit tentang manajemen pemeliharaan ternak sapi potong dan Hijauan pakan ternak di BPTU-HPT Padang Mangatas.
b)      Mahasiswa dapat menerapkan teori yang didapat secara langsung di lapangan.
c)      Mahasiswa berlatih untuk memecahkan masalah yang timbul dilapangan.
BAB II
TINJAUAN PUSTAKA

2.1              Bangsa Sapi Potong
Bangsa-bangsa sapi (Bos) yang terdapat di dunia ada dua, yaitu (1) kelompok yang berasal dari sapi  Zebu (Bos Indicus) atau jenis sapi yang berpunuk, yang berasal dan tersebar di daerah tropis serta, (2) kelompok dari yang tersebar di daerah sub tropis atau lebih dikenal dengan  Bos Taurus (Anonimus, 2010). Usaha ternak merupakan suatu proses mengkombinasikan faktor-faktor produksi berupa lahan, ternak, tenaga kerja, dan modal untuk menghasilkan produk peternakan. Keberhasilan usaha ternak sapi bergantung pada tiga unsur, yaitu bibit, pakan, dan manajemen atau pengolaan. Manajemen mencakup pengelolaan perkawinan, pemberian pakan, perkandangan dan kesehatan ternak. Manajemen juga mencakup penanganan hasil ternak, pemasaran dan pengaturan tenaga kerja  (Abidin, 2002).
Menurut Sudarmono dan Sugeng (2008) ciri-ciri bangsa sapi tropis yaitu memiliki gelambir, kepala panjang, dahi sempit, ujung telinga runcing, bahu pendek, garis punggung berbentuk cekung, kaki panjang, tubuh relatif kecil, dengan bobot badan 250-650 kg, tahan terhadap suhu tinggi, tahan terhadap caplak. Sapi dari sub tropis memiliki bentuk kepala pendek, ujung telinga tumpul, garis punggung lurus, kaki pendek, bulu panjang dan kasar, tidak tahan terhadap suhu tinggi, banyak minum dan kotorannya basah, cepat dewasa kelamin dan bentuk tubuh besar.
Sapi Simmental adalah bangsa Bos Taurus, Nama Simmental berasal dari tempat asalnya Simmental, yaitu di Lembah Simme di Swiss, sedangkan Thal atau tal dalam bahasa Jerman (Swiss juga berbahasa Jerman) artinya adalah lembah, sehingga sapi dari lembah Simme ini lebih di kenal dengan sebutan Simmental, tetapi sekarang berkembang lebih cepat di benua Eropa dan Amerika (Talib dan Siregar, 1999).
Sapi Limousin merupakan keturunan sapi eropa yang berkembang di Perancis. Tingkat pertambahan badan yang cepat perharinya 1,1.kg dengan Ukuran tubuhnya besar dan panjang serta dadanya besar dan berdaging tebal. Bulunya berwarna merah mulus. Sorot matanya tajam, kaki tegap dengan warna pada bagian lutut kebawah berwarna terang. Tanduk pada sapi jantan tumbuh keluar dan agak melengkung (Sudarmono, 2008).

2.2              Pakan
Bahan pakan adalah segala sesuatu yang dapat dimakan oleh ternak berupa bahan organik maupun anorganik dan dapat dicerna baik seluruhnya atau sebagian dengan tidak mengganggu kesehatan ternak yang bersangkutan. Pakan mempunyai peranan yang penting, bagi ternak-ternak muda untuk mempertahankan hidupnya dan menghasilkan suatu produksi serta tenaga, bagi ternak dewasa berfungsi untuk memelihara daya tahan tubuh dan kesehatan. Pakan yang diberikan pada seekor ternak harus sempurna dan mencukupi. Sempurna dalam arti bahwa pakan yang diberikan pada ternak tersebut harus mengandung semua nutrien yang diperlukan oleh tubuh dengan kualitas yang baik. Pakan ternak sapi potong yang cukup nutrien merupakan salah satu unsur penting untuk menunjang kesehatan, pertumbuhan dan reproduksi ternak (Sugeng, 2005).
Murtidjo (2001) menyatakan bahwa Pemberian pakan yang baik dan memenuhi beberapa kebutuhan sebagai berikut : (1) Kebutuhan hidup pokok, yaitu kebutuhan pakan yang mutlak dibutuhkan dalam jumlah minimal. Meskipun ternak dalam keadaan hidup tidak mengalami pertumbuhan dan kegiatan. Pada hakekatnya kebutuhan hidup pokok adalah kebutuhan sejumlah minimal zat pakan untuk menjaga keseimbangan dan mempertahankan kondisi tubuh ternak. Kebutuhan tersebut digunakan untuk bernafas, dan pencernaan pakan, (2) Kebutuhan pertumbuhan, yaitu kebutuhan pakan yang diperlukan ternak sapi untuk proses pembentukan jaringan tubuh dan menambah berat badan, (3) Kebutuhan untuk reproduksi, yaitu kebutuhan pakan yang diperlukan ternak sapi untuk proses reproduksi, misalnya kebuntingan Untuk kebutuhan nutrien sapi potong dalam praktek penyusunan diperlukan pedoman standart berdasarkan berat tubuh dan pertambahan berat tubuh.
Pakan penguat (konsentrat) adalah pakan yang mengandung serat kasar relatif rendah dan mudah dicerna. Bahan pakan penguat ini meliputi bahan pakan yang berasal dari biji-bijian seperti jagung giling, dedak, katul, bungkil kelapa, tetes, dan berbagai umbi. Fungsi pakan penguat adalah meningkatkan dan memperkaya nilai gizi pada bahan pakan lain yang nilai gizinya rendah (Sugeng, 1998).
Menurut Darmono (1992) konsentrat adalah bahan pakan yang mengandung serat kasar kurang dari 18%, berasal dari biji- bijian, hasil produk ikutan pertanian atau dari pabrik dan umbi- umbian. Bekatul dalam susunannya mendekati analisis dedak halus, akan tetapi lebih sedikit mengandung selaput putih dan bahan kulit, di dalam bekatul juga tercampur pecahan halus.
Pakan penguat perlu pula diberikan pada musim kering yang lama, saat rumput yang tersedia memiliki kandungan nutrisi yang rendah. Peranan pakan konsentrat adalah untuk meningkatkan nilai nutrisi yang rendah agar memenuhi kebutuhan normal hewan untuk tumbuh dan berkembang secara sehat (Sudarmono dan Sugeng, 2008).
Pakan hijauan ialah semua bahan pakan yang berasal dari tanaman dalam bentuk daun-daunan yang mengandung lebih dari 18% serat kasar dalam bahan kering yang dipergunakan sebagai bahan pakan ternak. Kelompok pakan hijauan ialah bangsa rumput (graminae), leguminosa, dan hijauan dari tumbuhan lain seperti daun nangka, daun waru, dan lain sebagainya. Kelompok makanan hijauan ini biasanya disebut makanan kasar. Hijauan sebagai bahan makanan ternak bisa diberikan dalam dua bentuk, yakni hijauan segar dan hijauan kering (Anonimus, 1983).

2.3              Sistem Pemeliharaan Ternak
Sistem pemeliharaan sapi potong dapat dibedakan menjadi 3, yaitu sistem pemeliharaan ekstensif, semi intensif dan intensif. Sistem ekstensif semua aktivitasnya dilakukan di padang penggembalaan yang sama. Sistem semi intensif adalah memelihara sapi untuk digemukkan dengan cara digembalakan dan pakan disediakan oleh peternak, atau gabungan dari sistem ekstensif dan intensif. Sementara sistem intensif adalah sapi-sapi dikandangkan dan seluruh pakan disediakan oleh peternak (Susilorini, 2008).
Menurut Sugeng (2008) sistem pemeliharaan sapi potong sebagai berikut: (1) Pemeliharaan ekstensif, sapi-sapi tersebut dilepaskan di padang pengembalaan dan digembalakan sepanjang hari, mulai pagi sampai sore hari. Selanjutnya mereka digiring kekandang terbuka yakni kandang tanpa atap. Di dalam kandang, sapi itu tidak diberi pakan tambahan lagi, (2) Pemeliharaan Semi Intensif, sapi-sapi pada siang hari diikat dan ditambatkan di ladang, kebun, atau pekarangan yang rumputnya subur. Sore harinya sapi-sapi tadi dimasukkan ke dalam kandang sederhana yang dibuat dari bahan bambu, kayu, atap genteng atau rumbia, dan sebagainya, yang lantainya dari tanah dipadatkan. Malam hari ternak diberi pakan tambahan berupa hijauan rumput atau dedaun-denaunan. Ternak juga masih diberi pakan penguat berupa dedak halus yang dicampur dengan sedikit garam, (3) Pemeliharaan Intensif, sapi-sapi yang dipelihara secara intensif pada umumnya hampir sepanjang hari berada di dalam kandang. Ternak tersebut dapat mengkonsumsi pakan sesuai kebutuhannya sehingga cepat meningkatkan bobot badan, sedangkan kotoran dari ternak tersebut pun bisa terkumpul dalam jumlah yang lebih banyak untuk di olah menjadi pupuk. Sapi–sapi memperoleh perlakuan yang lebih baik atau rutin dalam hal memberikan pakan, pembersihan kandang, memandikan sapi, menimbang, mengandalikan penyakit.

2.4              Hijauan Pakan Ternak
Hijauan segar berkaitan dengan faktor Pakan, iklim tropis basah dan karakteristik suhu rataan di atas 30˚C dan kelembaban udara lebih dari 70% menyebabkan kualitas hijauan yang diberikan memiliki kandungan serat kasar tinggi dan kandungan protein rendah, untuk meningkatkatkan kualitas pakan hijauan dianjurkan untuk melakukan “mixed culture” antara rumput dan tanaman leguminosa (Zailzar et al., 2011).
Salah satu jenis pakan ternak yaitu hijauan segar. Hijauan segar merupakan bahan pakan ternak yang diberikan pada ternak dalam bentuk segar, baik dipotong dengan bantuan manusia atau langsung disengut langsung oleh ternak dari lahan hijauan pakan ternak. Hijauan segar umumnya terdiri dari daun-daunan yang berasal dari rumput-rumputan dan tanaman biji-bijian atau kacang-kacangan. Rumput-rumputan yang sering digunakan sebagai pakan ternak yaitu rumput gajah (pennisetum purpureum), kacang-kacangan sering menggunakan daun lamtoro dan ramban menggunakan daun nangka, daun pisang dan daun petai cina (Priyono, 2009).
Menurut Prihadi (2003) hijauan yang berasal dari rumput dan daun-daunan yang berkualitas bagus, akan menjadikan sapi hanya dapat berproduksi 70% dari kemampuan yang seharusnya. Rumput dan daun-daunan merupakan pakan dasar bagi sapi perah karena harganya relatif murah. Pakan kasar berupa hijauan sangat diperlukan ternak ruminansia karena mengadung serat kasar tinggi yang berperan merangsang kerja rumen dan menentukan kadar lemak susu. Seekor sapi yang diharapkan memproduksi susu yang tinggi membutuhkan energi yang tinggi pula sehingga pemilihan jenis hijauan sangat perlu diperhatikan.
Hijauan berupa pennisetum purpureum, P. maximum, C. muconoides, dan P. phaseoloides sangat baik untuk dikembangkan pada peternakan sapi potong hal ini disebabkan kandungan nutrisi dan produksi Bahan Kering (BK) yang cukup tinggi.















Nama
Hijauan
Bahan Kering
(%)
Serat Kasar
(%)
Protein Kasar
(%)
Total Digestible Nutrient
(%)
Digestible Energy Metabolisme
cal/Kg
Produksi
Bahan Kering (Ton/Ha)
P.purpureum

22,2
32,3
8,69
52,4
0,4
26
P. maximum

23,6
32,9
10,9
53,6
0,6
26.6-36
C.muconoide

29,4
33,7
15,8
57,7
1,21
13.55
B.Decumbens
27,5
28,9
9,83
61,7
0,2
19.7
                                                                                                (Sutardi, 1981)
Rumput gajah (Pennisetum purpureum Schum) adalah salah satu jenis hijauan unggulan yang berproduksi tinggi dan daya adaptasi tinggi. Tanaman ini dapat hidup dan tumbuh pada tanah kritis atau tanah dengan minimal nutrisi dimana tanaman lain sebagian besar relatif tidak dapat tumbuh dan berkembang dengan baik. Produktifitas rumput gajah di Indonesia yaitu Rumput gajah cv. Hawai 525 ton per hektar dan Rumput gajah cv. Afrika 365 ton per hektar (Anonimus, 2014).
Rumput benggala (P. maximum ) merupakan rumput yang berdaun lebat, tingginya bervariasi, berkembang dengan potongan bungkul akar dan tunas aau rhizoma. Rumput tumbuh di daerah yang curah hujan 760 cm setahun. Peka terhdap kejutan beku, tahan naungan, agak tahan kering, tidak tumbuh pada tanah dengan drainase yang buruk. Rumput dapat tumbuh dari biji, mempunyai respon yang baik terhadap pemupukan, dapat tumbuh dengan campuran legum (Reksohadiprodjo, 1985).
            Selain hijauan berupa rumput, Leguminosa juga merupakan salah satu alternatif yang dapat diusahakan sebagai pakan ternak. Kandungan proteinnya rata-rata di atas 20 % (Tangendjaja dan Wina, 1998), sehingga dapat diharapkan dalam perbaikan kualitas pakan (Mariyono et al., 1998). Kaliandra (Calliandra calothyrsus) dan gamal (Gliricidia sepium) termasuk jenis leguminosa yang banyak dimanfaatkan peternak seperti di Jawa Timur (Wardhani et al., 1989 dalam Mariyono et al., 1998). Kaliandra mengandung zat anti nutrisi tanin dalam jumlah yang tinggi sampai 11 % sehingga dapat berpengaruh terhadap tingkat pemanfaatan pakan oleh ternak (Tangendjaja dan Wina, 1998), sedangkan gamal tidak mengandung tanin (Mariyono et al., 1998).


















BAB III
MATERI DAN METODE

3.1.      Waktu dan Tempat
Praktek  Lapangan dilaksanakan selama 1 bulan, dimulai pada tanggal 28 Januari sampai dengan 25 Februari 2015 yang berlokasi di Balai Pembibitan Ternak Unggul dan Hijauan Pakan Ternak (BPTU-HPT)  Padang Mengatas, Kabupaten Lima Puluh Kota, Sumatra Barat.
3.2.      Materi
Materi dalam praktek lapangan ini adalah manajemen pemeliharan ternak sapi potong dan hijauan pakan ternak di BPTU-HPT Padang Mengatas.
3.3.      Metode
Kegiatan Praktek Lapangan dilaksanakan dengan cara melakukan semua kegiatan yang telah ditetapkan oleh Balai Pembibitan Ternak Unggul (BPTU-HPT) Padang Mengatas Kabupaten Lima Puluh Kota dengan rincian kegiatan sebagai berikut :
1.   Mencatat dan mengumpulkan data hasil pengamatan primer.
2.   Mengadakan diskusi dengan pembimbing lapangan dan wawancara kepada pegawai atau karyawan kandang.
3.   Mengembalakan sapi di padang pengembalaan.
4.   Membersihkan kandang.
5.   Memotong hijauan pakan ternak.
6.   Memberikan pakan.





3.4.            Jadwal Kegiatan
Jadwal praktek lapangan adalah sebagai berikut :
No
Hari
Tanggal
Kegiatan
Jam (WIB)
1
Rabu
28-01-2015
Orientasi
Sanitasi kandang bull
Memberi pakan konsentrat
Memberi pakan hijauan
Diskusi dan tanya jawab
07.30- 16.00
2
Kamis
29-01-2015
Sanitasi kandang
Pemandian sapi
Pemisahan sapi
Pemberian konsentrat
Pemberian hijauan
IB
07.30-16.00

3
Jumat
30-01-2015
Sanitasi kandang
Menggiring sapi ke plot
Memberi obat pedet
Diskusi
Menggiring sapi dara
07.30-16.00
4
Sabtu
31-01-2015
Sanitasi kandang
Pemberian konsentrat
Pemberian hijauan
Menggiring sapi
07.30-12.00
5
Senin
02-02-2015
Kelahan bibit leguminosa
Menyabit leguminosa
Mengambil biji leguminosa
Menampi leguminosa
07.30-16.00
6
Selasa
03-02-2015
Kelahan bibit leguminosa
Menyabit legum stylosantes
Mengirik legum indigofera
Menampi biji indigofera
07.30-16.00
7
Rabu
04-02-2015
Ke lahan bibit hijauan dan leguminosa,
Menyabit leguminosa stylosanthes
Diskusi
Ishoma
Memberi pakan konsentrat
Diskusi
Cek kandang
07.30-16.00



8
Kamis
05-02-2015
Kelahan bibit hijauan dan leguminosa,
Meriak dan menginjak legum indigofera untuk diambil bijinya,
Menampi biji indigofera,
Diskusi
Penyusunan ransum
07.30-16.00
9
Jumat  
06-02-2015
Senam pagi bersama pegawai BPTU-HPT Padang Mengatas,
Kelahan bibit hijauan dan leguminosa,
Meriak dan menginjak legum indigofera untuk diambil bijinya,
Menampi biji indigofera,
Diskusi
Penyusunan ransum
07.30-16.00
10
Sabtu
07-02-2015
Sanitasi kandang
Memberikan hijauan dan konsentrat pada sapi,
Diskusi bersama pembimbing lapangan,









07.30-12.00
11
Senin
09-02-2015
Sanitasi kandang
Memberikan konsentrat dan hijauan pakan pada sapi,
Menggiring sapi yang akan di spraying,
Mengikuti proses Inseminasi Buatan
07.30-16.00
12
Selasa
10-02-2015
Sanitasi kandang,
Memberikan konsentrat dan hijauan pakan pada sapi,
Menggiring sapi yang akan di spraying,
Mengikuti proses Inseminasi Buatan

07.30-16.00
13
Rabu
11-02-2015
Pemberian pakan kosentrat  sanitasi kandang
pemberian pakan hijauan
menggiring ternak ke kandang
penanggulangan
menggiring sapi ke kandang restorasi
penyemprotan spraying caplak pada sapi,
mengontrol kandang.
07.30-16.00
14
Kamis  
12-02-2015
Pengambilan darah pada sapi,
Penyuntikan vitamin sapi,
Pengukuran syarat bibit sapi,
Sanitasi kandang.
07.30-16.00
15
Jumat  
13-02-2015
Senam pagi,
Pengobatan sapi dengan obat,
Sanitasi kandang
Penyuntikan hormon Folikel Stimulating Hormone pada sapi Transfer Embrio.
07.30-16.00
16
Sabtu  
14-02-2015
Pengobatan sapi yang terluka di bagian ekor,
Penyuntikan hormon FSH
Sanitasi kandang
pemberian konsentrat dan hijauan
pengobatan dan penyuntikan terhadap sapi yang sakit,

07.30-12.00
17
Senin
16-02-2015

Menggiring sapi ke kandang restorasi,
Hari  pertama pengambilan darah sebanyak lebih kurang 400 ekor,
Sanitasi kandang
Penyuntikan obat vigantol E

07.30-16.00
18
Selasa
17-02-2015
Upacara bendera merah putih
Sanitasi kandang
Pemberian konsentrat dan hijauan
Hari kedua pengambilan darah pada sapi,
Mengikuti proses belajar IB
07.30-16.00
19
Rabu
18-02-2015
Sanitasi kandang
Pemberian konsentrat dan hijauan
Merawat pedet yang sakit,
Diskusi bersama pegawai BPTU-HPT padang mengatas.




07.30-16.00
20
Kamis
19-02-2015
Libur


07.30-16.00
21
Jumat
20-02-2015
Senam pagi
Membersihkan area parit
Menyapu jalan
Diskusi  bersama drh. Darwis,
Menyemprot bagian tepi pagar plot 18
07.30-16.00
22
Sabtu
21-02-2015
Membersihkan area tepi pagar di bagian plot-plot,
Diskusi bersama  drh. Darwis.
07.30-12.00
23
Senin
23-02-2015
Membersihkan area tepi pagar di bagian plot-plot,
Diskusi bersama pembimbing lapangan dan tanya jawab
07.30-16.00
24
Selasa
24-02-2015
Mengikuti evaluasi mahasiswa/i Universitas Gadjah Mada
Diskusi dengan drh. Indah wati,.
Mengambil lempengan di pastura
07.30-16.00
25
Rabu  
25-02-2015
Evaluasi
07.30-12.00










BAB IV
HASIL DAN PEMBAHASAN

4.1.            Keadaan Umum BPTU HPT Padang Mengatas
BPTU-HPT Padang Mengatas merupakan stasiun peternakan yang didirikan oleh pemerintahan Hindia Belanda pada tahun 1916 dengan ternak yang pertama kali dipelihara adalah ternak kuda. Pada tahun 1935 didatangkan sapi zebu dari India dan berkembang dengan baik. Pada tahun 1945 - 1949 stasiun peternakan terhenti, dan tahun 1950 dibangun kembali oleh  wakil presiden Dr.H.Moh.Hatta dan dijadikan kembali stasiun peternakan pemerintah  dan diberi nama dengan nama Induk Taman Ternak (ITT) Padang Mengatas.
ITT Padang Mengatas pada tahun 1955 - 1957 merupakan stasiun peternakan yang terbesar di Asia Tenggara dan ternak yang dipelihara adalah kuda, sapi, kambing dan ayam. Kegiatan terhenti pada tahun 1958 - 1961, karena dijadikan benteng pertahanan PRRI dan kemudian tahun 1961 dibangun kembali oleh Pemerintah Daerah Sumatra Barat.
Pemerintah Republik Indonesia pada tahun 1974-1978 melakukan kerjasama dengan Pemerintah Jerman melalui proyek  Agriculture Development Project (ADP) untuk pengembangan peternakan. Ternak yang dipelihara sapi simmental,Brahman dan Peranakan Ongole. ITT pada tahun 1982 berubah nama menjadi Balai Pembibitan Ternak/Hijauan Pakan ternak (BPT/HPT) Padang Mengatas (SK mentan 313 tahun 1982) dengan wilayah kerja 3 (tiga) propinsi. (Sumatera Barat, Riau dan Jambi). BPT/HPT Padang Mengatas pada bulan Mei 2013 berubah nama  menjadi Balai Pembibitan Ternak Unggul Hijauan Pakan Ternak (BPTU-HPT)  Padang Mengatas.

4.1.1.   Lokasi dan Letak Geografis                                                                         BPTU-HPT Padang Mengatas berlokasi di Padang Mengatas, Kecamatan Luhak Kabupaten Lima Puluh Kota, Propinsi Sumatera Barat. Berjarak ± 12 km dari pusat kota Payakumbuh dan ± 136 km dari pusat ibu kota Sumatera Barat (Padang). Padang Mengatas berbatasan dengan: (1) Sebelah Utara berbatasan dengan Kenagarian Mungo dan Bukit Sikumpar, (2) Sebelah Selatan berbatasan dengan Gunung Sago, (3) Sebelah Timur berbatasan dengan Dusun Talaweh, (4) Sebelah Barat berbatasan dengan Kenagarian Sungai Kamuyang Timur.
            BPTU-HPT Padang Mengatas memiliki luas areal 280 Ha, yang terdiri dari 268 Ha kebun rumput dan pastura,  12 Ha untuk kandang, kantor, perumahan dan jalan lingkungan dengan status tanah merupakan milik negara dengan bukti Erpacht Vervonding No. 202 & 207, sertifikat Hak pakai Kementerian Pertanian No. 5 tahun 1997 Topografi  bergelombang dan berbukit landai dengan ketinggian 700 – 900 m dari permukaan laut, beriklim tropis dan temperatur mencapai 18º 28 ºC (23 ºC), kelembaban 70% serta curah hujan 1800 mm/tahun. BPTU-HPT Padang Mengatas mempunyai jenis tanah yaitu podsolik merah kuning dengan tekstur liat, pH 5,6 keadaan ini sangat baik untuk pengembangan peternakan sapi.
            BPTU-HPT Padang Mengatas memiliki fasilitas yaitu kantor, gedung pertemuan, aula, laboratorium, mess, rumah dinas, kandang, gudang, bengkel, kendaraan roda 4, kendaraan roda 2, tractor, hand tractor, hand mower, trailer, mixer, deeping, instalasi air minum, chopper, timbangan ternak, padang pengembalaan, kebun rumput, dan komputer.

4.1.2.      Populasi Ternak
Jenis sapi yang dipelihara di BPTU-HPT Padang Mengatas yakni sapi Simmental, Limousin dan Pesisir. Keseluruhan sapi yang diusahakan berupa sapi indukan karena bidang usaha yang dilaksanakan di BPTU-HPT Padang Mengatas  ini adalah pembibitan sapi unggul. Jadi pemeliharaan induk yang dilakukan bertujuan untuk menghasilkan bibit atau bakalan yang menjadi produk utama disamping produk lainnya yang berupa pupuk. Sapi-sapi tersebut dikelompokkan yaitu pedet, dara, dewasa serta indukan bunting atau menyusui.
Jumlah sapi yang terdapat di BPTU-HPT Padang Mengatas  sampai Januari 2015 seluruhnya adalah adalah 948 ekor. Jumlah ternak tidak selalu sama karena jumlahnya selalu berubah tiap tahunnya. Kematian pedet lebih banyak disebabkan karena abortus dan distokia yang terjadi di malam hari sehingga tidak diketahui oleh karyawan  kandang. Perubahan jumlah sapi tergantung pada jumlah kelahiran, jumlah kematian dan pergantian antara sapi dara dan sapi afkir.

4.1.3.      Struktur Organisasi
Untuk menunjang kegiatan operasional perusahaan sangat dibutuhkan struktur organisasi. Fungsi dari struktur organisasi adalah untuk menentukan seorang tenaga kerja yang bertanggung jawab terhadap pekerjaan dan kepada siapa ia harus melaporkan hasil kegiatannya. Hal ini sangat diperlukan agar setiap tenaga mengetahui hak dan kewajibannya yang sama. struktur organisasi BPTU-HPT Padang Mengatas dapat dilihat di bawah ini dan gambar rekapitulasi pegawai di BPTU-HPT Padang Mengatas :
Tabel 1.1. Struktur Organisasi BPTU-HPT Padang Mengatas.







Tabel 1.2. Rekapitulasi Pegawai BPTU-HPT Padang Mengatas menurut Tingkat Pendidikan.


No
Tingkat Pendidikan
Jumlah (orang)




1
Pasca Sarjana
5

2
Dokter Hewan
4



3
Sarjana
15


4
Diploma IV
3



5
Diploma III
6



6
SMA
46


7
SMP
4



8
SD
5





Jumlah
88














Sumber: BPTU-HPT Padang Mengatas (2015)
Tabel 1.3. Rekapitulasi Pegawai BPTU HPT Padang Mengatas Menurut Golongan Ruang

No
Gol
Jumlah (orang)


1
Gol I
5

2
Gol II
34

3
Gol III
45

4
Gol IV
4

jumlah

88


Sumber: BPTU-HPT Padang Mengatas (201
5)
4.1.4.   Visi dan Misi BPTU-HPT Padang Mengatas
Visi:
1.      Menjadi pusat penghasil bibit sapi potong unggul nasional.
Misi:
1.      Meningkatkan populasi sapi potong.
2.      Meningkatkan produksi dan reproduksi bibit sapi potong.
3.      Menyediakan bibit sapi potong unggul yang bersertifikat.
4.      Melakukan distribusi bibit sapi potong unggul.
5.      Meningkatkan kualitas sumber daya manusia aparatur dan pelaku usaha sapi potong.
6.      Melaksanakan pelayanan teknis dan jasa di bidang sapi potong.
7.      Menerapkan inovasi teknologi sapi potong.  
4.2.      Manajemen Pemeliharaan
Di BPTU-HPT Padang Mengatas sistem pemeliharaan ternak terbagi menjadi dua yaitu pemeliharaan di kandang dan di padang pengembalaan.
Ø  Sistem  pemeliharaan di kandang   
Sistem pemeliharaan di BPTU-HPT  Padang  Mengatas merupakan sistem pemeliharaan secara ekstensif. Sistem pemeliharaan di kandang hanya dilakukan untuk sapi pejantan unggul, induk yang mengalami gangguan reproduksi, sapi melahirkan, pedet dan sapi yang dalam pengobatan.  Sistem ekstensif digunakan untuk ternak sapi induk produktif, induk bunting muda, sapi dara dan pedet lepas sapih yang dilepaskan di padang pengembalaan.
Di BPTU-HPT Padang Mengatas hanya terdapat beberapa kandang yang digunakan, karena sistem pemeliharaan ternak adalah ekstensif dimana sapi digembalakan di pandang pengembalaan atau pastura. Rincian kandang dapat dilihat pada tabel di bawah ini : 

Table 1.4. Nama dan Fungsi kandang di BPTU-HPT Padang Mengatas.
No
Nama
Fungsi
1
Kandang 1
Kandang pejantan dewasa serta tempat  kawin alam.
2
Kandang 2
Kandang betina yang dalam penanganan  adanya gangguan reproduksi.
3
Kandang 3
Kandang klinik atau tempat untuk sapi- sapi yang sedang sakit.
4
Kandang 4
Kandang yang sering digunakan untuk penelitian.
5
Kandang 5
Kandang  jepit dan untuk penimbangan.
6
Kandang 6
Kandang ternak pejantan muda.
7

Kandang Utama (Ramayana)
Kandang utama terbesar.
8
Kandang Karantina 1
Kandang untuk sapi yang mengalami sakit yang kronis.
9
Kandang Karantina 2
Sebagai kandang sapi yang mengalami sakit serta sapi yang baru dibeli dari masyarakat atau luar daerah.
Sumber: BPTU-HPT Padang Mengatas (2015)
Kandang yang ada di BPTU-HPT Padang Mengatas ini memiliki tipe kandang yang berbeda. Kandang 1, 2, dan 6 dengan tipe head to head, kandang 3 dan 4 dengan tipe tail to tail dan individu sedangkan kandang 5 digunakan untuk kandang jepit dan penimbangan ternak.
Kandang di BPTU-HPT Padang Mengatas sesuai dengan pendapat Ngadiyono, (2007) dimana tipe kandang berdasarkan bentuknya ada 2, yaitu kandang tunggal dan kandang ganda. Kandang tunggal terdiri satu baris kandang yang dilengkapi lorong jalan dan selokan atau parit. Kandang ganda ada 2 macam yaitu sapi saling berhadapan head to head dan sapi saling bertolak belakang tail to tail yang dilengkapi lorong untuk memudahkan pemberian pakan dan pengontrolan ternak.
Fungsi kandang adalah melindungi sapi potong dari gangguan cuaca, tempat sapi beristirahat dengan nyaman, mengontrol agar sapi tidak merusak tanaman di sekitar lokasi, tempat pengumpulan kotoran sapi, melindungi sapi dari hewan pengganggu, dan memudahkan pelaksanaan pemeliharaan sapi tersebut (Abidin, 2006).
Perkandangan di BPTU-HPT Padang Mengatas sering berubah bentuk sesuai dengan tujuan pemeliharaan yang sekarang untuk menghasilkan bibit sapi unggul dengan sistem pemeliharaan di pastura. Kandang digunakan untuk sapi-sapi yang mengalami gangguan produksi, proses pengobatan, proses breeding lainnya, seperti seleksi, penimbangan , dan lain sebagainya.
Untuk pesyaratan perkandangan di BPTU-HPT Padang Mengatas sudah sesuai dengan persyaratan perkandangan dimana lokasinya jauh dari perumahan, air mudah didapatkan, ventilasi udara yang cukup lantai mudah dibersihkan.  Tempat pakan dan minum di kandang kurang efektif, dapat kita lihat tempat pakan dan minum berada satu tempat yang dipakai bergantian yaitu dikandang 6, pada kandang 1 tidak terdapat tempat minum, hanya menggunakan 1 ember berukuran kecil itupun tidak mencukupi kebutuhan air minum sapi. Jadi, kandang yang baik adalah tersedianya tempat pakan dan minum yang memadai, sehingga akan adanya keefektifan dan keefisienan dalam pemeliharaan dikandang.
Drainase atau saluran air terutama pembuangan kotoran sudah cukup baik, dimana air kotoran bisa mengalir dan tidak tertumpuk di selokan terlalu banyak. Selain itu feses yang terdapat dikandang dikumpulkan yang kemudian ditebarkan ke plot rumput gajah dengan cara menebarkan dijadikan pupuk kompos yang  tersedia di paddock – paddock.
Dalam sistem pemeliharaan di kandang terdapat beberapa kegiatan rutin yang di lakukan BPTU-HPT Padang Mengatas dengan tujuan untuk kebersihan kandang dan jauh dari bibit penyakit, diantaranya yaitu :
1.      Sanitasi Kandang
Sanitasi kandang di lakukan setiap hari yang dimulai pada jam 7.30  pagi sampai selesai. Sanitasi dialakukan untuk kenyamanan ternak dan juga memudahkan pekerja untuk mengontrol ternak serta jauh dari penyakit. Sanitasi kandang dimulai dari membersihkan sisa pakan dan minuman yang diberikan pada hari sebelumnya, membersihkan feses di lantai dan mencuci sisa feses yang terdapat di lantai. Feses yang banyak terdapat di lantai mengakibatkan lantai lincin dan mengakibatkan ternak jatuh sehingga bisa cedera dan sulit untuk beraktifitas.
2.      Perawatan  Ternak
Perawatan merupakan salah satu bagian dari pemeliharaan ternak yang tidak dapat diabaikan begitu saja. BPTU-HPT Padang Mengatas kegiatan  merawat ternak hanya dilakukan untuk sapi pejantan yang terdapat dikandang satu. Kandang lainnya hanya digunakan untuk memberi kosentrat dan pengontrolan birahi sehingga ternak hanya berada sementara dan tidak ada  perawatan ternak. Perawatan dilakukan dengan memandikannya agar terjaga kesehatan ternak dari kuman penyakit, parasit, dan jamur yang bersarang di bulunya. 

Ø  Manajemen Pemeliharaan di Pastura
BPTU-HPT Padang Mengatas, pemeliharan di pastura menggunakan sistem rotation grazing dan memiliki padang pengembalaan yang sangat luas ± 240 Ha. Pembagian padang gembala menjadi paddock yang dilengkapi dengan tempat pakan dan minum untuk masing-masing paddock serta di keliling pagar kawat, pagar listrik dan pagar hidup untuk menjaga ekosistem alam.

Gambar 1.1. Sapi di Pastura

Ternak yang ada di pastura di bagi menjadi beberapa kelompok yaitu, induk beranak, anak lepas sapih, muda, dara, induk bunting, induk kering kandang dan pejantan. Ternak ini hanya dibawa ke kandang di pagi hari pada jam 7.30 untuk di berikan kosentrat dan di deteksi birahi serta kesehatan ternak. Setelah itu ternak di kembalikan ke paddock yang sudah ditentukan.
Di pastura ternak dapat makan secara adlibitum tanpa terbatas karena rumput tersedia sepanjang waktu. Dengan sistem rotation grazing ketersediaan akan hijauan dapat dikontrol dan ketersediannya tidak akan berkurang.



4.2.      Manajemen Pakan dan Pemeliharaan Hijauan Pakan Ternak (HPT)

Ø   Penyediaan Pakan Hijauan dan Konsentrat
A.        Jenis Pakan
Pakan yang diberikan pada ternak sapi potong di BPTU-HPT Padang Mengatas terdapat 2 jenis, meliputi hijauan makanan ternak dan konsentrat.
1.                  Hijauan makanan ternak
Ketersediaan pakan khususnya pakan hijauan baik kualitas, kuantitas maupun kontinuitasnya merupakan faktor yang penting dalam menentukan keberhasilan usaha peternakan ternak ruminansia. Hal ini disebabkan hampir   90% pakan ternak ruminansia berasal dari hijauan dengan konsumsi segar perhari  10 - 15% dari berat badan (BB), sedangkan sisanya adalah konsentrat dan pakan tambahan (feed supplement).
Untuk pakan hijauan di BPTU-HPT Padang Mengatas terbagi menjadi 2 tipe, yaitu:

a)                  Hijauan Rumput Penggembalaan dan Rumput Potong
            Rumput adalah tumbuhan dari keluarga graminae dan cyperaceae (teki-tekian), baik yang dibudidayakan maupun yang tumbuh secara alami atau liar yang mempunyai kandungan serat kasar minimal 18%
1.             Brachiaria decumbens (rumput BD)
            Nama Umum             : Rumput BD
Nama lain                   : Signal grass
            Asal dan Penyebaran:
            Rumput ini berasal dari Uganda, menyebar keseluruh daerah tropis termasuk Asia Tenggara.

Gambaran Umum     :
            Daun berbulu warna hijau tua, perakaran cukup dalam, bunga berbentuk mayang bendera ,batang agak kasar, dan beruas pendek, merupakan rumput pengembalaan yang baik, tinggi tanaman dapat mencapai 1 meter.

Syarat Tumbuh         :
            Tumbuh baik dari 0 - 1750 mdpl. Cocok untuk daerah tropis basah dan kering, dan tetap hijau sepanjang musim kemarau serta Dapat tumbuh pada berbagai jenis iklim. Mampu bertahan pada tanah-tanah dengan Ph rendah dan tidak subur dan tidak tahan terhadap genangan. Kandungan protein Rumput BD berkisar 8 – 10%, Produksi Hijauan Segar 100 - 150 ton/ha/tahun dan responsif terhadap pemupukan nitrogen.

            Budidaya                    :
            Penanaman terutama dengan pols, karena kualitas biji seringkali sangat rendah. Sebagai penguat teras ditanam dengan jarak 20 cm, dan pemanenan pertama umur 60 hari setelah tanam. Pada musim hujan interval panen 40 hari dan musim kemarau 50 - 60 hari, serta tinggi pemotongan 5 - 10 cm dari permukaan tanah. Gambar Rumput BD dapat dilihat pada gambar di bawah ini.








                          Gambar 1.2. Brachiaria decumbens (Rumput BD)

2.       Brachiaria humidicola (rumput BH)
      Nama Umum             : Rumpt BH
Nama lain                   : Kronivia grass
Asal dan Penyebaran:
            Rumput ini berasal dari Zimbabwe, menyebar keseluruh daerah tropis termasuk Asia tenggara.
Gambaran Umum     :
            Daun berbulu warna hijau tua, perakaran cukup dalam, bunga berbentuk mayang bendera, batang agak kasar,dan beruas pendek, tumbuh membentuk hamparan lebat, tinggi tanaman dapat mencapai 1 meter.

Syarat Tumbuh:
            Tumbuh baik dari 0 - 2000 mdpl, cocok untuk daerah tropis basah dan kering, dan tetap hijau sepanjang musim kemarau. Dapat tumbuh pada berbagai jenis iklim, mampu bertahan pada jenis tanah dengan kisaran yang luas  dan kesuburan rendah (mulai dari struktur ringan sampai berat dan pH 3,5 - 7 dan sangat tahan kering, tetapi juga tahan terhadap genangan. Kandungan protein rumput BH kurang dari 10%, produksi hijauan segar 100 - 150 ton/ha/tahun. Produksi benih 200 kg biji/ha dan responsif terhadap pemupukan nitrogen.
            Budidaya                    :
            Penanaman terutama dengan pols jarak tanam 1 x 2 m, dengan biji 2 - 5 kg/ha. Sebagai penguat teras ditanam dengan jarak 20 cm dengan pemanenan pertama umur 60 hari setelah tanam. Pada musim hujan interval panen 40 hari dan musim kemarau 50 - 60 hari. Tinggi pemotongan bisa lebih rendah dari jenis-jenis brachiaria lain dan dapat ditanam bersama siratro, centrocema dan yang paling baik dengan arachis. Gambar Rumput BH dapat dilihat pada gambar di bawah ini.

                                                                                  





                                Gambar 1.3. Brachiaria humidicola (Rumput BH).
3.       Rumput  Rhodes (Chloris gayana)
Nama Umum             : Rumput Rhodes
Nama lain                   : Chloris gayana, Pioneer grass
Asal dan Penyebaran:
            Rumput ini berasal dari Afrika Selatan dan Afrika Timur, kemudian meluas ke Afrika Barat sebelum menyebar ke daerah tropis termasuk Asia Tenggara.

Gambaran Umum     :
            Daun halus tidak berbulu, panjang daun  sekitar 50 cm dan lebar 0,5 - 1 cm.  Tinggi tanaman  bisa mencapai 1,5 m. Bunga berbentuk mayang jari bewarna coklat keunguan, Batang bercabang lebat,  Rumput menahun dengan perakaran sangat kuat, penghasil biji yang produktif, Kadar protein kasar bervariasi seiring umur tanaman dan berkisar dari 17 (% BK ) pada daun yang masih muda sampai  3 % pada daun yang sudah tua.

Syarat Tumbuh         :
            Tumbuh dari daerah dekat permukaan laut sampai 2000 mdpl di daerah tropis, dan sampai > 1000 m dpl pada daerah sub tropis. Cocok untuk daerah dengan curah hujan 650 - 1200 mm/tahun dan tidak tumbuh baik bila curah hujan > 1800 mm. Tumbuh pada hampir semua tanah yang berpengairan baik, kecuali pada tanah liat berat, asalkan kesuburan tanah memadai. Tidak tahan pada tanah dengan kadar Mangnesium (Mg) tinggi. Toleran terhadap jenis tanah dengan pH 6,5 - 7, tahan kekeringan, penggembalaan berat, salinitas dan pada umumnya tidak tahan terhadap naungan. Kandungan protein kasar 8 - 9 % tergantung pada kultivar. Produksi Hijauan Segar 30 - 45 ton/ha/tahun, Karena cepat menyebar, banyak digunakan sebagai tanaman pengendali erosi.


            Budidaya                    :
            Penanaman terutama dengan stolon sehingga cepat menutup tanah. Ditanam dengan jarak 40 x 40 cm atau sesuai kondisi tanah. Pada musim hujan interval panen 60 hari dan musim kemarau 50 - 90 hari. Tinggi pemotongan bisa lebih rendah dari jenis-jenis brachiaria lain dan dapat ditanam bersama siratro dan centrocema. Pemanenan pertama umur 90 hari dan tinggi pemotongan 5 - 10 cm dari permukaan tanah. Gambar Rumput Rhodes dapat dilihat pada gambar di bawah ini.






                       
                      Gambar 1.4. Chloris gayana (Rumput Rhodes).

4.       Rumput Benggala (Panicum Maximum)
Nama Lain                             : Guinea grass
Asal dan Penyebaran            :
            Rumput ini berasal dari Afrika Timur dan Afrika Tengah. Sekarang tersebar tersebar luas diwilayah tropis termasuk Indonesia.

Gambaran Umum                 :
            Tumbuh tegak, membentuk rumpun dengan tinggi mencapai 1,8 - 3,6 m, perakaran kuat dan dalam, berumur panjang, daun halus, panjang 30 - 50 cm, lebar 1 - 2 cm dan agak berbulu, bunga membentuk malai, tahan naungan, tahan api, batang tebal dan keras.



Syarat Tumbuh                     :
            Cocok untuk dataran rendah dan dataran tinggi 1700 mdpl dengan curah hujan 600 - 1800 mm/tahun. Tumbuh baik pada pH tanah 5 - 8, tetapi memerlukan tanah yang subur atau pemupukan. Cocok ditanam di lahan kering banyak pohon dan dapat beradaptasi pada berbagai tipe tanah. Tumbuh sangat baik pada tanah dengan kesuburan sedang dan tinggi dan drainase baik. Produktivitas haijauan segar rumput benggala bisa mencapai 100 - 150 ton/ha/tahu dengan kandungan protein kasar 7 - 14 % tergantung pada umur panen.
            Budidaya                    :
            Penanaman dengan biji dan pols. Perbanyakan dengan biji 2,2 kg/ha jika ditanam bersama tanaman lain, 6,7 kg/ha untuk tanaman murni. Jarak tanam 60 x 60 cm, disesuaikan dengan kondisi tanah. Pemanenan pertama umur 90 hari Interval panen 30 - 40 hari pada saat musim hujan, dan 50 - 60 hari pada musim kemarau. Tinggi pemotongan 5 - 10 cm dari permukaan tanah.

5.       Rumput Gajah (Pennisetum Purpureum)
Nama lain : Rumput Napier, Elephant grass
Asal dan Penyebaran            :
            Rumput ini berasal dari Nigeria dan tersebar luas diseluruh wilayah tropis. Masuk ke Indonesia pada akhir masa penjajahan Belanda, sejak tahun 1926. Di Indonesia pada awalnya disebarkan didaerah peternakan sapi perah di Jawa Barat, Jawa tengah dan Jawa Timur.

Gambaran Umum                 :
            Tumbuhnya membentuk rumpun dan perakarannya cukup dalam, rhizoma atau rimpang pendek serta pada umur 4 - 5 tahun kumpulan batang di bagian bawah membentuk bonggol, batang tebal dan lunak, daun relatif besar, daunnya berbulu lembut. Tinggi tanaman bisa mencapai 4 sampai 5 m. Kurang tahan terhadap genangan, mampu bersaing dengan rumput lain. Bunga tersusun dalam tandan, tahan kekeringan. Pada batang muda pangkal batangnya berwarna kemerah merahan.
            Syarat Tumbuh                     :
            Cocok untuk daerah tropik basah dengan sinar matahari yang cukup, sampai ketinggian 3000 mdpl, dengan curah hujan 1500 mm. Perlu tanah bersolum tebal dengan kesuburan sedang untuk hasil yang lebih baik. Rumput ini dapat beradaptasi di berbagai macam tanah, meskipun hasil panennya berbeda. Produktivitas cukup tinggi mencapai 300 ton/ha pertahun dengan kondisi pemupukan yang optimal. Produksi per rumpun bisa lebih dari 7 kilogram (basah) per panen. Kandungan protein rumput ini sekitar 7,6 %.

            Budidaya                                :
            Penanaman dengan pols dan stek, panjang stek 20 - 30 cm (mempunyai dua mata tunas) dan jarak tanam 1 x 1 m, dapat disesuaikan dengan kondisi tanah. Pemanenan pertama umur 60 - 80 hari. Pada musim hujan interval panen 30 - 40 hari dan 60 - 90 hari pada musim kemarau. Rumput Gajah dapat ditanam bersama jenis leguminosa seperti centrocema pubescens dan lain sebagainya. Gambar Rumput Gajah dapat dilihat pada gambar di bawah ini.
           



                                      Gambar 1.5. Rumput Gajah (Pennisetum purpureum).





6.       Rumput Setaria Sphacelata
            Nama lain        : Rumput Setaria, Golden Timothy
Asal dan Penyebaran            :
            Rumput ini berasal dari Afika tropika dan sub tropik, sekarang sudah menyebar ke Australia dan Asia.

Gambaran Umum                 :
            Tanaman ini berumur panjang, tumbuh tegak mencapai tinggi 2 m dan membentuk rumpun. Pangkal batang berwarna kemerah-merahan, daun lunak, lebar agak berbulu pada permukaann atasnya terutama dekat batang. Bila kondisi baik satu rumpun bisa mencapai ratusan batang. Rumput ini termasuk tanaman yang tahan kering dan teduh, serta genangan air, tetapi yang lebih disukai adalah tanah yang lembab dan subur. Sangat responsive terhadap pemupukan nitrogen.

Syarat Tumbuh                     :
            Tinggi tempat 200 – 300 mdpl dengan struktur tanah sedang sampai berat. Curah hujan sekitar 600 mm/tahun atau lebih. Di daerah dataran rendah, rumput ini bisa tumbuh baik jika mendapatkan curah hujan yang cukup, lebih dari 1000 mm/tahun. Produksi benih 112 kg/ha dan biji hijauan yang dihasilkan mencapai 60 – 100 ton/ha/tahun.

            Budidaya                    :
            Diperbanyak dengan menggunakan biji  4 - 10 kg/ha dan sobekan rumput. Jarak tanam 70 x 90 cm, pemupukan dengan pupuk organik atau buatan. Dapat ditanam bersama leguminosa seperti Stylosanthes gracilis, Desmodium intortum, lamtoro dan Siratro. Interval pemotongan 35 – 40 hari diwaktu musim hujan dan 60 hari sekali dimusim kemarau.




7.      Rumput Pennisetum Purpureophoides
Nama Umum : Rumput Raja, King Grass
Asal dan Penyebaran            :
            Rumput ini berasal dari persilangan antara Pennisetum purpureum dengan Pennisetum typhodes. Pertama dilakukan di Afrika Selatan. Di Australia dikenal dengan nama Pennisetum hybrid. Di introduksi ke Indonesia tahun 1980.

Gambaran Umum                 :
            Rumput ini membentuk rumpun dan sistem perakarannya cukup dalam, rhizome atau rimpang pendek, pada umur 4-5 tahun perlu diremajakan karena bagian bawah membentuk bonggol. batang tegak, berbuku keras bila sudah tua. Tinggi tanamannya bisa mencapai 1,8 – 4,5 m dengan diameter batang 3 cm. Daunnya keras dan berbulu, panjangnya bisa mencapai 90 cm dan lebar 8-35 cm dan bunganya berbentuk tandan serta tahan terhadap naungan.

Syarat Tumbuh                     :
            Tumbuh baik di dataran rendah dan tinggi, tetapi hasil terbaik di peroleh bila ditanam di dataran rendah. Tanah harus subur, gembur dan tidak tergenang air, tidak bercadas dan pH tanah 5-7. Curah hujan di atas 1.000 mm /tahun. Toleran terhadap berbagai tanah, namun lebih menyukai tanah berstektur ringan serta responsif terhadap pemupukan nitrogen.

            Produktivitas dan Kualitas  :
            Produktivitas mencapai 350-500 ton bobot segar/ha/tahun Kandungan protein cukup tinggi dan bisa dijadikan bahan pembuatan silase




            Budidaya                                :
            Untuk pengembangan bibit bisa menggunakan stek. Panjang stek 25-39 cm paling sedikit dua mata tunas dengan jarak tanam berkisar 100x100 cm. Pemanenan pertama umur 60 – 75 hari. Gambar Rumput Pennisetum purpureophoides dapat dilihat pada gambar di bawah ini.




                                          Gambar 1.6. Rumput Pennisetum purpureophoides.

b)     Leguminosa/ kacang-kacangan
            Kacang-kacangan dalam formulasi pakan hijauan mengandung nilai nutrisi tinggi dan dapat memperbaiki kesuburan tanah, yaitu sebagai pupuk hijau, dapat diberikan ± 25 % dari jumlah kebutuhan hijauan secara keseluruhan. Berikut kacang-kacangan yang sering diberikan kepada ternak.
1.   Stylosanthes Guianensis
             Nama umum : Stylo
      Asal dan Penyebaran            :
                  Legum ini berasal dari Amerika Tengah dan Selatan

      Gambaran Umum                 :
                  Stylosanthes termasuk tanaman menahun yang tumbuh tegak atau agak rebah menyerupai semak. Tinggi bisa mencapai ketinggian 100 - 150 cm. Batangnya kasar, berbulu serta rimbun. Tanaman ini setiap tangkai berdaun tiga helai. Sistem perakarannya luas masuk jauh ke dalam tanah. Bunga berwarna kuning.


      Syarat Tumbuh                                 :
                        Dapat tumbuh baik di daerah kering maupun basah serta bisa tumbuh di tanah yang miskin unsur hara. Tahan terhadap tanah asam dan tidak tahan terhadap naungan. Produktivitas dan kualitas hijauan pertahun sekitar 40 ton/ha, kandungan protein ± 15,5 %, dan Produksi biji mencapai 300 kg /ha/tahun.

      Budidaya                                            :
                        Ditanam dengan menggunakan biji sekitar 4 - 6 kg/ha, jarak tanam 60 x 60 cm, setiap lubang bisa diisi 3 - 5 biji, Jika ditanam dengan stek, paling sedikit stek mengandung 3 ruas batang yang panjangnya ± 30 cm, ditanam sedalam ± 20 cm. Penyiangan dilakukan saat tanaman masih muda. Pemotongan pertama dilakukan saat tanaman sudah menutupi tanah, yaitu 6 bulan setelah tanam. Pemanenan selanjutnya setiap dua bulan sekali dengan meninggalkan pangkal batang setinggi ± 25 cm dari tanah. Tanaman ini bisa ditanam bersama rumput Panicum maximum, Paspalum Dilatatum.

2.   Centrocema Pubescens
            Nama umum : Centro 
      Asal dan Penyebaran                        :
            Legum ini berasal dari Amerika Selatan dan sudah menyebar luas di Indonesia.

      Gambaran Umum                 :
                        Termasuk tanaman berumur panjang, batangnya tumbuh menjalar, memanjat dan bagian ujungnya melilit. Batangnya agak berbulu, tidak berkayu. Bunganya berwarna ungu, besar dan polongnya panjang, berdaun tiga helai berbentuk oval pada setiap tangkai. Daun lebat, batang tidak berkayu. Centro tahan hidup dibawah naungan dan tahan kekeringan.

Syarat Tumbuh                     :
            Centro bisa hidup di tanah yang ringan dan sedang serta agak tahan terhadap tanah asam. Bisa tumbuh sampai pada ketinggian 0 – 1.000 mdpl, cocok dengan curah hujan 1.300 mm/tahun atau lebih. Tumbuh baik pada iklim tropis lembab dan suhu tumbuh sekitar 27 0C. Produksi biji mencapai 300 kg/ha dengan kandungan protein bisa mencapai 16,8 %.

            Budidaya                                :
            Perbanyakan tanaman dengan menggunakan biji sekitar 3 - 5 kg/ha. Sebelum ditanam, biji direndam dalam air panas selama ± 30 menit dengan jarak tanam antar baris 1 – 1,5 m. Pada saat tanaman masih muda perlu didangir dan disiang, agar pertumbuhannya lebih cepat. Gambar Centrocema pubescens dapat dilihat pada gambar di bawah ini.





                                   Gambar 1.7. Centrocema pubescens.

3.      Indigofera sp
            Nama umum : Tarum, Indigofera
            Asal dan Penyebaran
            Indigofera menyebar di Afrika, Asia, Amerika Utara dan dibawa ke Indonesia sekitar tahun 1.900.
Gambaran Umum                             :
            Sebagian besar spesiesnya memiliki daun berwarna hijau tua berbentuk oval, dan bunga kecil yang berkelompok berwarna merah. Sekilas mirip dengan Gamal dan memiliki batang semi berkayu. Umur panen daun 60 hari, tingginya bisa mencapai 3 - 4 m dan tahan kekeringan. Tumbuh ditanah berpasir dan lahan kritis (marginal) dan memerlukan sinar matahari langsung, air yang cukup. Cocok untuk daerah dengan curah hujan sedikit. Nilai protein daun Indigofera bervariasi dari 25 - 28 % bahkan bisa sampai 31 %. Produksi hijauan sebanyak 3 kg/pohon (interval potong 3 bulan).

Budidaya                                :
            Dikembangkan dengan menggunakan biji. Bibit dipindahkan dari persemaian setelah berumur 30 hari. Penyiangan dilakukan sebelum pemupukan serta pemanenan pertama Indigofera setelah berumur 4 bulan, interval pemanenan 90 hari. Gambar Indigofera sp dapat dilihat pada gambar di bawah ini.





                  Gambar 1.8. Indigofera sp

4.      Sesbania grandiflora
                  Nama umum : Turi
            Asal dan Penyebaran
            Turi berasal dari Asia Tenggara

            Gambaran Umum
            Tanaman berbentuk pohon yang berumur pendek, sejenis semak, tinggi bisa mencapai 15 m. Ranting menggantung, cabangnya sedikit, bentuk buah panjang seperti kacang panjang dengan warna hijau pada waktu masih muda, bunga ada dua warna yaitu merah dan putih. Buahnya berbentuk polong yang panjang daunnya majemuk, kecil-kecil dan bulat.

Syarat Tumbuh                     :
            Turi Cocok di daerah tropis yang lembab. Tumbuh baik pada dataran rendah sampai dengan ketinggian 800 mdpl serta toleran terhadap tanah basa dan agak asam. Peka terhadap suhu dingin dengan curah hujan antara 2.000 – 4.000 mm/tahun. Tidak tumbuh baik pada tanah kritis.

5.      Desmodium cinerea
            Nama umum : Desmodium rensonii
            Asal dan Penyebaran                        :
            Tanaman ini berasal dari Brazil. Saat ini sudah menyebar ke berbagai daerah di Asia termasuk Indonesia.

Gambaran Umum                             :
            Desmodium tergolong jenis leguminosa berumur panjang, tumbuh mencapai 3 m, merupakan semak berumur pendek (2 - 3 tahun). Batangnya berkayu dan percabangannya sedikit Setiap tangkai berdaun tiga helai. Tanaman ini toleran terhadap kekeringan ataupun genangan air.

            Syarat Tumbuh                                 :
            Paling cocok tumbuh pada tanah netral atau agak asam dengan kesuburan sedang. Tumbuh baik pada daerah beriklim tropis basah dengan musim kemarau yang singkat atau tanpa musim kemarau. Dapat tumbuh pada ketinggian 200 – 1.000 mdpl. Curah hujan lebih dari 900 m /tahun.

            Budidaya                                            :
            Tanaman ini harus ditanam dengan biji yang disemai terlebih dahulu sebelum ditanam. Jarak tanam 1,5 x 1,5 m, penyiangan dilakukan saat tanaman masih muda. Dapat ditanam bersama Setaria, Pennisetum purpureum, Panicum maximum.


2.                  Konsentrat
Pakan penguat atau konsentrat yang berbentuk seperti tepung adalah sejenis pakan komplit yang dibuat khusus untuk meningkatkan produksi dan berperan sebagai penguat. Mudah dicerna, karena terbuat dari campuran beberapa bahan pakan sumber energi (biji-bijian, sumber protein jenis bungkil, kacang-kacangan, vitamin dan mineral).
Pemberian konsentrat perlu diberikan pada ternak untuk meningkatkan produksinya, dengan pemberiaan dan komposisi yang sesuai dengan kebutuhan nutrisi ternak. Pemberian konsentrat pada ternak sapi diberikan pada pagi hari sebanyak 1 – 3 % dari BB (bobot badan).
Fungsi pakan penguat (konsentrat) adalah untuk meningkatkan dan memperkaya nilai gizi pada bahan pakan lain yang nilai gizinya rendah. Konsentrat yang digunakan adalah konsentrat hasil formulasi sendiri dengan menyesuaikannya dengan kebutuhan ternak. Konsentrat ini diberi nama Matery Feed dan telah diuji di laboratorium serta telah diperjualbelikan bila ada pesanan. Kandungan nutrien dari konsentrat Matery Feed menurut Balai Direktorat Jenderal Bina Produksi Peternakan terdiri dari air 9,58%, abu 10,16%, protein kasar 13,85%, lemak kasar 5,47% serat kasar 22,26%, Ca 0,55% dan P 0,55%.
Formulasi atau menyusun ransum harus memperhatikan kandungan zat-zat yang terdapat di dalam bahan makanan agar didapatkan susunan ransum yang sesuai dengan kebutuhan ternak yang dipelihara. Hal tersebut harus diperhatikan agar kebutuhan pokok, pertumbuhan dan produksi ternak terpenuhi. Khusus untuk ternak bibit, kebutuhan reproduksinya harus selalu diperhatikan. Bahan pakan yang digunakan untuk penyusunan ransum di BPTU-HPT Padang Mengatas seperti terlihat pada tabel 1.5. di bawah ini.







  Tabel 1.5. Formulasi bahan campuran konsentrat di BPTU-HPT Padang Mengatas
Bahan Pakan
Persentase (%)
Jumlah ( kg )
Dedak
40
770
Konsentrat
40
392
Bungkil Kelapa
16
182
Cattle Mix
2
28
Garam
2
28
Jumlah
100
1400
       Sumber : BPTU-HPT Padang Mengatas (2015)
Penyusunan ransum dilakukan dengan mencampur semua bahan menjadi satu lalu diaduk dengan menggunakan mixer alat pengaduk untuk mendapatkan suatu campuran yang homogen. Setelah semua bahan dicampur menjadi homogen, lalu konsentrat tadi dikemas dengan menggunakan karung dengan ukuran ± 25 kg.
Selain hijaun dan kosentrat, di BPTU-HPT Padang Mengatas juga memberikan Urea Mineral Molases Blok (UMMB) yang di buat sendiri oleh pengawas mutu pakan. Pemberian disesuaikan dengan kebutuhan, yaitu di letakkan di setiap kandang kemudian di gantikan pada saat sudah habis. Tabel formulasi UMMB dapat dilihat pada gambar di bawah ini.












Tabel 1.6. Formulasi UMMB di BPTU-HPT Padang Mengatas
Bahan pakan
Jumlah (%)
a.      Tepung kanji                    
b.      Dedak                   
c.      Bungkil kelapa
d.     Urea                      
e.      Garam                   
f.       Kapur     
g.      Mineral  
h.      Molases 
i.        Semen   
15
33
10
1
3
10
5
13
10
Jumlah
100
              Sumber : BPTU-HPT Padang Mengatas (2015)
Cara pembuatan UMMB :
·         Menimbang bahan-bahan yang dibutuhlan dengan menggunakan alat penimbang.
·         Melarutkan garam dan urea dengan menggunakan air secukupnya
·         Mencampurkan dengan rata dedak, tepung kanji, mineral, bungkil kelapa, kapur dan semen
·         Mencampurkan bahan bahan pakan yang telah tercampur rata kedalam larutan garam dan urea
·         Tambahkan sedikit demi sedikit molases sebanyak 3 kg
·         Memasukan campuran pakan tersebut kedalam ember kemudian memberikan pipa dibagian tengah ember agar terdapat lubang dibagian tengahnya yang kemudian dari lubang tersebut untuk digantung
·         Mencetak UMMB dengan menggunakan ember

Pembuatan UMMB dapat dikatakan berhasil jika UMMB tidak pecah dan tidak terlalu lengket, serta setelah waktu 7 hari sudah bisa diberikan ke ternak sebagai permen sapi. Teknis pemberian UMMB ialah dengan cara meletakkan UMMB di bagian pertengahan kandang, sedangkan untuk di padang penggembalaan diletakkan dekat tempat pakan ternak.
B.                 Pemberian Pakan Hijaun dan Konsentrat
BPTU-HPT Padang Mengatas memelihara sapi dengan sistem ekstensif sehingga pemberian konsentrat hanya diberikan 1 kali sehari pada jam 08.00 atau  sebelum pemberian hijauan. Pemberian hijauan di kandang hanya dberikan untuk ternak yang memiliki perlakuan khusus yang  diberikan pada jam 10.00 wib dan jam 14.00 wib sedangkan untuk ternak lainnya setelah pemberian kosentrat dan pengontrolan kesehatan serta birahi ternak dikembalikakn ke pastura. Hal ini sesuai dengan pendapat Siregar (2003) yaitu pemberian konsentrat yang dilakukan 2 jam sebelum pemberian hijauan akan meningkatkan kecernaan bahan kering dan bahan organik karena konsentrat yang relatif banyak mengandung pati sebagian besar sudah dicerna oleh mikroorganisme rumen pada saat hijauan mulai masuk ke dalam rumen.
Jenis hijauan yang diberikan untuk ternak yang dikandangkan  adalah Rumput Gajah cv. Taiwan yang sudah diperkecil ukurannya dengan mennggunakan chopper. Hal ini dilakukan untuk meningkatkan palatabilitas, daya cerna dan efisiensi pakan.

4.3.2. Pengolahan/ Perawatan Hijauan Pakan Ternak (HPT)
a.                  Tata laksana budidaya hijauan makan ternak
Di BPTU-HPT Padang Mengatas melakukan tata laksana budidaya hijauan pakan ternak sebagai berikut :
1.      Pengolahan lahan
Pengolahan lahan dimaksudkan untuk mempersiapkan media tumbuh bagi hijauan, melalui beberapa tahap, yaitu: pembersihan lahan dari semak belukar, pembajakan dan penggaruan (perataan tanah). Sebaiknya pengolahan dilakukan menjelang akhir musim kemarau. Peralatan yang digunakan dapat berupa: Traktor, cangkul, garu dan garu.

2.      Penanaman
Pola penanaman hijauan yang umum dilakukan ada 3 cara penanaman yaitu:
a.       Disebarkan: terutama untuk biji atau benih di padang pengembalaan.
b.      Dalam larikan atau jalur-jalur dengan steak (panjang 2 buku ± 25 cm), pols (sobekan rumpun), rhizome atau stolon (sobekan akar).
c.       Dalam gundukan, untuk tanah yang kurang subur dengan steak, pols dan rhizome.

Jarak tanam tergantung pada jenis tanaman yang akan ditanam dan tujuan penanaman. Untuk kebun rumput jarak tanam dapat 50 cm x 1,25 m atau 1,25 x 1,25 m. untuk padang pengembalaan 30 x 40 cm.

3.      Pemupukan bertujuan untuk mempertahankan atau memperbaiki kesuburan tanah dan meningkatkan produksi hijauan. Pemupukan dapat dilakukan dengan cara menyebar pada permukaan tanah, ditanam dalam parit atau ditanam disekitar rumpun tanaman. Jenis pupuk yang dipakai dapat berupa pupuk organik (pupuk kandang) dan anorganik (pupuk buatan), seperti Urea, TSP/SP 36 dan KCl. Jumlah pupuk yang dipakai untuk 1 ha lahan adalah: Urea : TSP/SP36 : KCL= 2:1:1 = 50 kg : 25 kg : 25 kg, sedangkan untuk pupuk kandang dapat dipakai 15 - 30 ton/ha/tahun.

4.      Perawatan tanaman
Perawatan dilakukan dengan cara membersihkan tanaman dari gulma, menggemburkan tanah satu minggu setelah tanam dan satu minggu setelah pemanenan atau pemotongan. Pengemburan tanah perlu dilakukan secara teratur agar tata air, udara tetap terjaga dan dapat mengurangi erosi.

5.      Pemanenan
Panen rumput pertama dapat dilakukan setelah berumur 60 hari, dan pemotongan selanjutnya dapat dilakukan setiap umur rumput 40 - 50 hari (sebelum berbunga). Tinggi pemotongan dibuat 10 - 15 cm dari permukaan tanah dengan tujuan untuk mempercepat tumbuh anakan.
6.      Peremajaan
Untuk menjamin kelangsungan produksi rumput perlu diremajakan sebaiknya 5 - 7 tahun dengan demikian produksi hijauan pakan ternak berproduksi secara continue ( terus menerus ) dan lahan tidak kehilangan kesuburan.

7.      Pengukuran pH
Pengukuran pH bertujuan untuk menentukan kondisi tanah untuk penanaman (asam atau basa). Hal ini berkaitan erat dengan perlakuan terhadap tanah untuk penanaman rumput. pH normal untuk penanaman rumput pakan adalah 6 - 7. Pengukuran dilakukan dengan pH meter.

Menurut Edo,(2012) Tanaman yang berkualitas tinggi selain dari tata laksana ladangnya, yang harus diperhatikan adalah pelaksanaan pemeliharaannya. Pemeliharaan diantaranya dengan cara pemberantasan siangan (weeds), pendangiran dan pemupukan ulangan. Siangan yang tumbuh berupa rumput-rumput liar atau tanaman - tanaman penganggu disingkirkan. Pendangiran dilakukan guna untuk menggemburkan kembali tanah yang menjadi padat akibat terjadinya hujan lebat. Pemupukan ulang berarti memberikan kembali pupuk atau zat - zat makan dalam tanah yang hilang pada tanaman agar perkembangannya semakin baik dan juga memperbaiki struktur tanah tersebut.

b.            Kegunaan pakan
Kegunaan pakan terhadap ternak yaitu sumber kubutuhan hidup pokok dan aktifitas kehidupan, sebagai pertumbuhan dan pengganti jaringan tubuh yang telah rusak.Untuk memproduksi, menghasilkan daging, susu, dan anak keturunan serta pupuk, tenaga kerja, kesehatan tubuh agar tetap sehat, kuat sehingga dapat bertahan terhadap serangan penyakit.




c.             Cara pemberian pakan
            Manajemen pemberian pakan sangat berpengaruh kepada proses pencernaan sapi.  Pemberian hijauan sebaiknya dilayukan dan dicacah terlebih dahulu (di potong pagi, diberikan sore atau dipotong hari ini, diberikan besok pagi, tujuannya adalah untuk mengurangi kadar air rumput dan mengurangi atau membunuh parasit-parasit yang melekat pada rumput). Pemberian hijauan dapat dilakukan 2-3 kali sehari dan untuk konsentrat dapat diberikan 1-2 kali sehari.  Konsentrat sebaiknya diberikan pada pagi hari sebelum pemberian pakan hijauan dalam keadaan kering sehingga dapat memacu keluarnya saliva yang akan berguna untuk membantu pencernaan di lambung.
            Pemberian feed supplement atau mineral sebaiknya ditaburkan pada rumput atau pada konsentrat (dedak, ampas tahu, dll), jangan dicampur air minum. Namun yang perlu diperhatikan bahwa air minum sapi harus tersedia sepanjang waktu (adlibitum).












BAB III
PENUTUP

5.1.            Kesimpulan

1.      Manajemen pemeliharaan ternak sapi potong di BPTU-HPT Padang Mengatas meliputi Pembibitan, Perkandangan, Pakan, Kesehatan Ternak, dan Reproduksi.
2.      Manajemen Hijauan Pakan Ternak (HPT) di BPTU-HPT Padang Mengatas yaitu ada Penyedian Pakan Hijauan dan konsentrat.
3.      Sistem Pemeliharaan di BPTU-HPT Padang Mengatas, yaitu Semi Intensif (pastura) dan Intensif.
4.      Jenis Hijauan Pakan Ternak di BPTU-HPT Padang Mengatas, yaitu Rumput Pengembalaan, Rumput Potong, dan Leguminosae.
















DAFTAR PUSTAKA
Susetyo,.S.I.Kismono,.D,Soewardi,1969.Hijuan Makanan Ternak.Direktorat Jendral Peternakan Jakarta.

Sutardi, 1981. Kandungan nutrisi hijauan pakan ternak dan leguminosa. Penebar Swadaya. Jakarta.

Siregar, T., S. Riyadi, dan L. Nuraeni. 1989. Budidaya, Pengolahan dan Pemasaran Coklat. Penebar Swadaya. Jakarta.

Sosroamidjojo, M.S. 1991. Ternak Potong dan Kerja.Yasaguna, Jakarta

Darmono. 1992. Tatalaksana Usaha Sapi Kereman. Kanisius : Jakarta

Mariyono, U., Umiyasih, Tangendjaja., B. Musofie, A. dan Wardhani, N.K., 1998. Pemanfaatan leguminosa yang mengandung tanin sebagai pakan sapi perah dara. Pros. Sem. Nas. II. INMT. 171 – 172.

Talib, C. dan A.R. Siregar. 1999. Faktor-faktor yang mempengaruhi pertumbuhan pedet PO dan crossbrednya dengan Bos indicus dan Bos taurus dalam pemeliharaan tradisional. Proc. Seminar Nasional Peternakan dan Veteriner. Puslitbangnak. Bogor.

Murtidjo, B.A., 2001. Beternak Sapi Potong. Kanisius. Yogyakarta.

Sarwono, B., dan Arianto H. B., 2002. Penggemukan Sapi Potong Secara Cepat. Penebar Swadaya. Jakarta.

Siregar, S.B., 2003. Teknik Pemeliharan sapi. Penebar Swadaya. Jakarta.

Prihadi, S. 2003. Manajemen Ternak Perah. Fakultas Peternakan. Universitas Gadjah Mada. Yogyakarta

Sugeng, Y.B., 2005. Sapi Potong. Penebar Swadaya. Jakarta

Abidin, Z. 2006. Penggemukan Sapi Potong. Agro Media Pustaka, Jakarta.

Ngadiyono, N. 2007. Beternak Sapi. PT Citra Aji Pratama, Yogyakarta

Sudarmono dan Sugeng, 2008. Sapi Potong. Penebar Swadaya. Jakarta.

Priyono. 2009. Identifikasi Jenis Pakan Ternak. Tersedia di  http://www.ilmupeternakan.com/2009/06/identifikasi-jenis-pakanternak.html. diakses pada 22 maret 2014 jam 12.52 WIB.

Anonimus, 2010. Beternak Sapi Potong. Kanisius. Yogyakarta


Lampiran 1.1. Keterangan Plot-plot di BPTU-HPT Padang Mengatas
No.
Nama Plot
Luas (Ha)
Kondisi
Keterangan
1
I
5,23
Baik

2
V
2
Baik

3
VI
2,5
Baik

4
VII Barat
10,5
Baik

5
VII Timur
4,66
Baik

6
VIII
5,09
Baik

7
IX
5,6
Baik

8
X
6
Baik

9
XI
8,7
Baik

10
XIIA
6,7
Baik

11
XIIB
8,9
Baik

12
XIII Barat
6,09
Baik

13
XIII Timur
5,2
Baik

14
XIV Barat
6,09
Baik

15
XIV Timur
6,7
Baik

16
XV Barat
6,9
Baik

17
XV Timur
8,9
Baik

18
XVI
10,5
Baik

19
XVII Barat
5,43
Baik

20
XVII Timur
5,73
Baik

21
XVIII Barat
7,1
Baik

22
XVIII Timur
10,62
Baik

23
XIX A
6
Baik

24
XIX B
7
Baik

25
XX
5,48
 Baik

26
XXI
3,1
Baik

27
XXII
6
Baik

28
XXIII
3,53
Baik

29
A
2,9
kurang baik

30
B
5,6
kurang baik

31
C
4
kurang baik

32
D Barat
13,41
kurang baik

33
D Timur
15
kurang baik

34
E
3,6
kurang baik

35
FA
3,6
kurang baik

36
FB
3,6
kurang baik



Tidak ada komentar:

Posting Komentar