BAB I
PENDAHULUAN
1.1.
Latar
Belakang
Ternak sapi adalah salah satu jenis
ternak yang potensial dan mempunyai prospek untuk menghasilkan daging dan susu. Daging sapi sangat digemari,
akan tetapi pemeliharaan sangat kurang. Hewan ternak juga mempunyai peranan
yang sangat penting dalam lingkungan masyarakat kita, karena sering
dimanfaatkan sebagai hewan kurban pada hari raya yang permintaanya selalu
meningkat setiap tahun, akan tetapi permintaan yang tinggi tersebut tidak
diiringi dengan ketersediaan bibit yang cukup baik.
Instansi
pemerintah salah satu yang berfungsi menyediakan bibit unggul sapi potong di
Indonesia adalah Balai Pembibitan Ternak Unggul dan Hijauan Pakan Ternak
(BPTU-HPT) Padang Mengatas Sumatra Barat. BPTU-HPT Padang Mengatas pertama kali
didirikan oleh pemerintahan Hindia Belanda pada tahun 1916. Ternak yang
dikembangkan adalah kuda dan pada tahun 1935 didatangkan sapi zebu dari bangsa Benggala India untuk
dikembangbiakan kepada BPTU-HPT.
Pada tahun 1950 oleh wakil presiden Dr. Moh. Hatta dipugar kembali dan tahun
1961-1953 dijadikan sebagai stasiun peternakan pemerintahan dan diberi nama
Induk Taman Ternak (ITT) Padang Mengatas.
Pada tahun 1955 ITT Padang Mengatas merupakan stasiun peternakan yang
terbesar di Asia Tenggara, dimana ternak yang dipelihara adalah ternak kuda,
sapi, kambing dan ayam. Tahun
1958 - 1961
terjadi pergolakan Pemerintahan
Revolusioner Republik Indonesia (PRRI), dan lokasi ITT Padang Mengatas dijadikan
sebagai basis pertahanan PRRI sehingga ITT Padang Mengatas rusak berat. Pada
tahun 1961 Induk Taman Ternak (ITT) Padang Mengatas dibenahi kembali oleh
pemerintah daerah Sumatra Barat. Pada tahun 1973 - 1974 pemerintah Jerman mengadakan kajian
di ITT Padang Mengatas maka pada tahun 1974 - 1978 dilakukan kerjasama pembangunan
kembali ITT Padang Mengatas antara pemerintah Republik Indonesia (RI) dan Jerman melalui Proyek Agriculture Development Project
(ADP). Tahun 1974 proyek ADP berakhir dan
diserahkan kepada Departemen Pertanian dengan nama Balai Pembibitan Ternak –
Hijauan Pakan Ternak (BPT – HPT) Padang Mengatas sesuai dengan SK Menteri
Pertanian RI No. 313/Kpts/Org/1978 dengan wilayah kerja 3 propinsi (Sumatera Barat, Riau, dan Jambi). Tahun 1978 BPT–HPT Padang Mengatas dibiayai oleh Pemerintah Daerah Sumatera Barat dan pemerintah pusat dan pada tahun
1985 seluruh pembiayaan diambil pemerintah pusat. Berdasarkan
keputusan Menteri Pertanian Republik Indonesia No. 292/Kpts/OT.210/4/2002
tanggal 16 April 2002 berubah nama menjadi Balai Pembibitan Ternak Unggul
(BPTU) Sapi Potong Padang Mengatas dengan wilayah kerja meliputi seluruh
propinsi di Indonesia.
BPTU-HPT
Padang Mengatas berada di kaki gunung Sago, Padang
Mengatas, Kecamatan Luhak, Kabupaten Limapuluh Kota, Provinsi Sumatera Barat.
Berjarak kurang lebih 12 km dari Kota Payakumbuh dan lebih kurang 136 km dari
Kota Padang. Luas
kawasan BPTU-HPT Padang Mengatas adalah 280 ha, 268 ha merupakan lapangan
rumput dan pastura, 12 ha untuk fasilitas yang lainnya. Tanah ini milik negara,
sertifikat hak pakai kementrian pertanian No.5 tahun 1997.
1.2.
Tujuan
a) Mengetahui manajemen pemeliharaan ternak sapi potong
dan hijauan pakan ternak di BPTU-HPT
Padang Mengatas.
b) Mengetahui permasalahan yang dihadapi dalam manajemen pemeliharaan
ternak sapi potong
dan hijauan pakan
ternak yang ada BPTU-HPT Padang Mengatas.
c) Membandingkan teori dan kondisi nyata di lapangan.
1.3.
Manfaat
a) Mahasiswa
mendapatkan gambaran yang lebih jelas dan kongkrit tentang manajemen
pemeliharaan
ternak sapi potong dan Hijauan pakan ternak di
BPTU-HPT Padang Mangatas.
b) Mahasiswa dapat
menerapkan teori yang didapat secara langsung di lapangan.
c) Mahasiswa
berlatih untuk memecahkan masalah yang timbul dilapangan.
BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
2.1
Bangsa
Sapi Potong
Bangsa-bangsa sapi (Bos) yang terdapat di dunia ada dua, yaitu (1) kelompok yang
berasal dari sapi Zebu (Bos Indicus)
atau jenis sapi yang
berpunuk, yang berasal dan tersebar di daerah tropis serta, (2) kelompok dari yang
tersebar di daerah sub tropis atau lebih dikenal dengan Bos Taurus (Anonimus, 2010). Usaha ternak merupakan suatu proses mengkombinasikan faktor-faktor
produksi berupa lahan, ternak, tenaga kerja, dan modal untuk menghasilkan
produk peternakan. Keberhasilan usaha ternak sapi bergantung pada tiga unsur,
yaitu bibit, pakan, dan manajemen atau pengolaan. Manajemen mencakup
pengelolaan perkawinan, pemberian pakan, perkandangan dan kesehatan ternak.
Manajemen juga mencakup penanganan hasil ternak, pemasaran dan pengaturan
tenaga kerja (Abidin, 2002).
Menurut Sudarmono dan Sugeng (2008) ciri-ciri
bangsa sapi tropis yaitu memiliki gelambir, kepala panjang, dahi sempit, ujung
telinga runcing, bahu pendek, garis punggung berbentuk cekung, kaki panjang, tubuh
relatif kecil, dengan bobot badan 250-650 kg, tahan terhadap suhu tinggi, tahan
terhadap caplak. Sapi dari sub tropis
memiliki bentuk kepala pendek, ujung telinga tumpul, garis punggung lurus, kaki
pendek, bulu panjang dan kasar, tidak tahan terhadap suhu tinggi, banyak minum
dan kotorannya basah, cepat dewasa kelamin dan bentuk tubuh besar.
Sapi Simmental
adalah bangsa Bos Taurus, Nama Simmental
berasal dari tempat asalnya Simmental, yaitu di Lembah Simme di Swiss,
sedangkan Thal atau tal dalam bahasa Jerman (Swiss juga berbahasa Jerman)
artinya adalah lembah, sehingga sapi dari lembah Simme ini lebih di kenal
dengan sebutan Simmental, tetapi
sekarang berkembang lebih cepat di benua Eropa dan Amerika (Talib dan Siregar, 1999).
Sapi Limousin merupakan keturunan sapi eropa yang
berkembang di Perancis. Tingkat pertambahan badan yang cepat perharinya 1,1.kg
dengan Ukuran tubuhnya besar dan panjang serta dadanya besar dan berdaging
tebal. Bulunya berwarna merah mulus. Sorot matanya tajam, kaki tegap dengan
warna pada bagian lutut kebawah berwarna terang. Tanduk pada sapi jantan tumbuh
keluar dan agak melengkung (Sudarmono, 2008).
2.2
Pakan
Bahan pakan adalah segala sesuatu yang
dapat dimakan oleh ternak berupa bahan organik maupun anorganik dan dapat
dicerna baik seluruhnya atau sebagian dengan tidak mengganggu kesehatan ternak
yang bersangkutan. Pakan mempunyai peranan yang penting, bagi ternak-ternak
muda untuk mempertahankan hidupnya dan menghasilkan suatu produksi serta
tenaga, bagi ternak dewasa berfungsi untuk memelihara daya tahan tubuh dan
kesehatan. Pakan yang diberikan pada seekor ternak harus sempurna dan
mencukupi. Sempurna dalam arti bahwa pakan yang diberikan pada ternak tersebut harus
mengandung semua nutrien yang diperlukan oleh tubuh dengan kualitas yang baik.
Pakan ternak sapi potong yang cukup nutrien merupakan salah satu unsur penting
untuk menunjang kesehatan, pertumbuhan dan reproduksi ternak (Sugeng, 2005).
Murtidjo (2001) menyatakan bahwa
Pemberian pakan yang baik dan memenuhi beberapa kebutuhan sebagai berikut : (1) Kebutuhan hidup pokok, yaitu
kebutuhan pakan yang mutlak dibutuhkan dalam jumlah minimal. Meskipun ternak
dalam keadaan hidup tidak mengalami pertumbuhan dan kegiatan. Pada hakekatnya
kebutuhan hidup pokok adalah kebutuhan sejumlah minimal zat pakan untuk menjaga
keseimbangan dan mempertahankan kondisi tubuh ternak. Kebutuhan tersebut
digunakan untuk bernafas, dan pencernaan pakan, (2) Kebutuhan pertumbuhan, yaitu
kebutuhan pakan yang diperlukan ternak sapi untuk proses pembentukan jaringan
tubuh dan menambah berat badan,
(3) Kebutuhan
untuk reproduksi, yaitu kebutuhan pakan yang diperlukan ternak sapi untuk
proses reproduksi, misalnya kebuntingan Untuk kebutuhan nutrien sapi potong
dalam praktek penyusunan diperlukan pedoman standart berdasarkan berat tubuh
dan pertambahan berat tubuh.
Pakan penguat (konsentrat) adalah pakan yang
mengandung serat kasar relatif rendah dan mudah dicerna. Bahan pakan penguat
ini meliputi bahan pakan yang berasal dari biji-bijian seperti jagung giling,
dedak, katul, bungkil kelapa, tetes, dan berbagai umbi. Fungsi pakan penguat
adalah meningkatkan dan memperkaya nilai gizi pada bahan pakan lain yang nilai
gizinya rendah (Sugeng, 1998).
Menurut Darmono (1992) konsentrat adalah bahan pakan
yang mengandung serat kasar kurang dari 18%, berasal dari biji- bijian, hasil
produk ikutan pertanian atau dari pabrik dan umbi- umbian. Bekatul dalam
susunannya mendekati analisis dedak halus, akan tetapi lebih sedikit mengandung
selaput putih dan bahan kulit, di dalam bekatul juga tercampur pecahan halus.
Pakan penguat perlu pula diberikan pada musim kering
yang lama, saat rumput yang tersedia memiliki kandungan nutrisi yang rendah.
Peranan pakan konsentrat adalah untuk meningkatkan nilai nutrisi yang rendah
agar memenuhi kebutuhan normal hewan untuk tumbuh dan berkembang secara sehat
(Sudarmono dan Sugeng, 2008).
Pakan hijauan ialah semua bahan pakan yang berasal
dari tanaman dalam bentuk daun-daunan yang mengandung lebih dari 18% serat
kasar dalam bahan kering yang dipergunakan sebagai bahan pakan ternak. Kelompok
pakan hijauan ialah bangsa rumput (graminae), leguminosa, dan
hijauan dari tumbuhan lain seperti daun nangka, daun waru, dan lain sebagainya.
Kelompok makanan hijauan ini biasanya disebut makanan kasar. Hijauan sebagai
bahan makanan ternak bisa diberikan dalam dua bentuk, yakni hijauan segar dan
hijauan kering (Anonimus, 1983).
2.3
Sistem
Pemeliharaan Ternak
Sistem pemeliharaan sapi potong dapat
dibedakan menjadi 3, yaitu sistem pemeliharaan ekstensif, semi intensif dan
intensif. Sistem ekstensif semua aktivitasnya dilakukan di padang penggembalaan
yang sama. Sistem semi intensif adalah memelihara sapi untuk digemukkan dengan
cara digembalakan dan pakan disediakan oleh peternak, atau gabungan dari sistem
ekstensif dan intensif. Sementara sistem intensif adalah sapi-sapi dikandangkan
dan seluruh pakan disediakan oleh peternak (Susilorini, 2008).
Menurut Sugeng (2008) sistem
pemeliharaan sapi potong sebagai berikut: (1) Pemeliharaan ekstensif,
sapi-sapi
tersebut dilepaskan di padang pengembalaan dan digembalakan sepanjang hari,
mulai pagi sampai sore hari. Selanjutnya mereka digiring kekandang terbuka
yakni kandang tanpa atap. Di dalam kandang, sapi itu tidak diberi pakan
tambahan lagi, (2) Pemeliharaan Semi Intensif, sapi-sapi
pada siang hari diikat dan ditambatkan
di ladang, kebun, atau pekarangan yang rumputnya subur. Sore harinya sapi-sapi
tadi dimasukkan ke dalam kandang sederhana yang dibuat dari bahan bambu, kayu,
atap genteng atau rumbia, dan sebagainya, yang lantainya dari tanah dipadatkan.
Malam hari ternak diberi pakan tambahan berupa hijauan rumput atau
dedaun-denaunan. Ternak juga masih diberi pakan penguat berupa dedak halus yang
dicampur dengan sedikit garam, (3) Pemeliharaan
Intensif, sapi-sapi
yang dipelihara secara intensif pada
umumnya hampir
sepanjang hari berada di dalam kandang. Ternak tersebut dapat mengkonsumsi pakan sesuai kebutuhannya
sehingga cepat meningkatkan bobot badan, sedangkan kotoran dari ternak tersebut
pun bisa terkumpul dalam jumlah yang lebih banyak untuk di olah menjadi pupuk. Sapi–sapi
memperoleh perlakuan yang lebih baik atau rutin dalam hal memberikan pakan,
pembersihan kandang, memandikan sapi, menimbang, mengandalikan penyakit.
2.4
Hijauan
Pakan Ternak
Hijauan segar berkaitan dengan faktor Pakan, iklim tropis
basah dan karakteristik suhu rataan di atas 30˚C dan kelembaban udara lebih
dari 70% menyebabkan kualitas hijauan yang diberikan memiliki kandungan serat
kasar tinggi dan kandungan protein rendah, untuk meningkatkatkan kualitas pakan
hijauan dianjurkan untuk melakukan “mixed
culture” antara rumput dan tanaman leguminosa (Zailzar et al., 2011).
Salah satu jenis pakan ternak yaitu hijauan segar.
Hijauan segar merupakan bahan pakan ternak yang diberikan pada ternak dalam
bentuk segar, baik dipotong dengan bantuan manusia atau langsung disengut
langsung oleh ternak dari lahan hijauan pakan ternak. Hijauan segar umumnya terdiri
dari daun-daunan yang berasal dari rumput-rumputan dan tanaman biji-bijian atau
kacang-kacangan. Rumput-rumputan yang sering digunakan sebagai pakan ternak
yaitu rumput gajah (pennisetum purpureum), kacang-kacangan sering
menggunakan daun lamtoro dan ramban menggunakan daun nangka, daun pisang dan
daun petai cina (Priyono, 2009).
Menurut Prihadi (2003) hijauan yang
berasal dari rumput dan daun-daunan yang berkualitas bagus, akan menjadikan
sapi hanya dapat berproduksi 70% dari kemampuan yang seharusnya. Rumput dan
daun-daunan merupakan pakan dasar bagi sapi perah karena harganya relatif
murah. Pakan kasar berupa hijauan sangat diperlukan ternak ruminansia karena
mengadung serat kasar tinggi yang berperan merangsang kerja rumen dan
menentukan kadar lemak susu. Seekor sapi yang diharapkan memproduksi susu yang
tinggi membutuhkan energi yang tinggi pula sehingga pemilihan jenis hijauan
sangat perlu diperhatikan.
Hijauan berupa pennisetum purpureum,
P. maximum, C. muconoides, dan P. phaseoloides sangat baik untuk
dikembangkan pada peternakan sapi potong hal ini disebabkan kandungan nutrisi
dan produksi Bahan Kering (BK)
yang cukup tinggi.
Nama
Hijauan
|
Bahan
Kering
(%)
|
Serat
Kasar
(%)
|
Protein
Kasar
(%)
|
Total
Digestible
Nutrient
(%)
|
Digestible
Energy
Metabolisme
cal/Kg
|
Produksi
Bahan
Kering
(Ton/Ha)
|
P.purpureum
|
22,2
|
32,3
|
8,69
|
52,4
|
0,4
|
26
|
P.
maximum
|
23,6
|
32,9
|
10,9
|
53,6
|
0,6
|
26.6-36
|
C.muconoide
|
29,4
|
33,7
|
15,8
|
57,7
|
1,21
|
13.55
|
B.Decumbens
|
27,5
|
28,9
|
9,83
|
61,7
|
0,2
|
19.7
|
(Sutardi, 1981)
Rumput gajah (Pennisetum purpureum
Schum) adalah salah satu jenis hijauan unggulan yang berproduksi tinggi dan
daya adaptasi tinggi. Tanaman ini dapat hidup dan tumbuh pada tanah kritis atau
tanah dengan minimal nutrisi dimana tanaman lain sebagian besar relatif tidak
dapat tumbuh dan berkembang dengan baik. Produktifitas rumput gajah di
Indonesia yaitu Rumput gajah cv. Hawai 525 ton per hektar dan Rumput gajah cv.
Afrika 365 ton per hektar (Anonimus, 2014).
Rumput benggala (P. maximum )
merupakan rumput yang berdaun lebat, tingginya bervariasi, berkembang dengan
potongan bungkul akar dan tunas aau rhizoma. Rumput tumbuh di daerah yang curah
hujan 760 cm setahun. Peka terhdap kejutan beku, tahan naungan, agak tahan
kering, tidak tumbuh pada tanah dengan drainase yang buruk. Rumput dapat tumbuh
dari biji, mempunyai respon yang baik terhadap pemupukan, dapat tumbuh dengan
campuran legum (Reksohadiprodjo, 1985).
Selain
hijauan berupa rumput, Leguminosa juga merupakan salah satu alternatif yang dapat
diusahakan sebagai pakan ternak. Kandungan proteinnya rata-rata di atas 20 %
(Tangendjaja dan Wina, 1998), sehingga dapat diharapkan dalam perbaikan
kualitas pakan (Mariyono et al., 1998). Kaliandra (Calliandra
calothyrsus) dan gamal (Gliricidia sepium) termasuk jenis leguminosa
yang banyak dimanfaatkan peternak seperti di Jawa Timur (Wardhani et al., 1989
dalam Mariyono et al., 1998). Kaliandra mengandung zat anti
nutrisi tanin dalam jumlah yang tinggi sampai 11 % sehingga dapat berpengaruh
terhadap tingkat pemanfaatan pakan oleh ternak (Tangendjaja dan Wina, 1998),
sedangkan gamal tidak mengandung tanin (Mariyono et al., 1998).
BAB
III
MATERI DAN METODE
3.1.
Waktu
dan Tempat
Praktek Lapangan dilaksanakan selama 1 bulan, dimulai
pada tanggal 28
Januari sampai dengan 25
Februari 2015
yang berlokasi di Balai Pembibitan Ternak Unggul dan Hijauan Pakan Ternak (BPTU-HPT) Padang Mengatas, Kabupaten Lima Puluh Kota, Sumatra
Barat.
3.2.
Materi
Materi
dalam praktek lapangan ini adalah manajemen pemeliharan ternak sapi potong dan hijauan pakan ternak di BPTU-HPT Padang Mengatas.
3.3.
Metode
Kegiatan Praktek
Lapangan dilaksanakan dengan cara melakukan semua kegiatan yang telah
ditetapkan oleh Balai Pembibitan Ternak Unggul (BPTU-HPT) Padang Mengatas
Kabupaten Lima Puluh Kota dengan rincian kegiatan sebagai berikut :
1. Mencatat
dan mengumpulkan data hasil pengamatan primer.
2. Mengadakan
diskusi dengan pembimbing lapangan dan wawancara kepada pegawai atau karyawan
kandang.
3.
Mengembalakan sapi di padang
pengembalaan.
4. Membersihkan kandang.
5.
Memotong hijauan pakan ternak.
6.
Memberikan pakan.
3.4.
Jadwal
Kegiatan
Jadwal
praktek lapangan adalah sebagai berikut :
No
|
Hari
|
Tanggal
|
Kegiatan
|
Jam (WIB)
|
1
|
Rabu
|
28-01-2015
|
Orientasi
Sanitasi
kandang bull
Memberi
pakan konsentrat
Memberi
pakan hijauan
Diskusi dan
tanya jawab
|
07.30- 16.00
|
2
|
Kamis
|
29-01-2015
|
Sanitasi
kandang
Pemandian
sapi
Pemisahan
sapi
Pemberian
konsentrat
Pemberian
hijauan
IB
|
07.30-16.00
|
3
|
Jumat
|
30-01-2015
|
Sanitasi
kandang
Menggiring
sapi ke plot
Memberi obat
pedet
Diskusi
Menggiring
sapi dara
|
07.30-16.00
|
4
|
Sabtu
|
31-01-2015
|
Sanitasi kandang
Pemberian
konsentrat
Pemberian
hijauan
Menggiring
sapi
|
07.30-12.00
|
5
|
Senin
|
02-02-2015
|
Kelahan
bibit leguminosa
Menyabit leguminosa
Mengambil
biji leguminosa
Menampi leguminosa
|
07.30-16.00
|
6
|
Selasa
|
03-02-2015
|
Kelahan
bibit leguminosa
Menyabit
legum stylosantes
Mengirik
legum indigofera
Menampi biji
indigofera
|
07.30-16.00
|
7
|
Rabu
|
04-02-2015
|
Ke lahan
bibit hijauan dan leguminosa,
Menyabit leguminosa stylosanthes
Diskusi
Ishoma
Memberi
pakan konsentrat
Diskusi
Cek kandang
|
07.30-16.00
|
8
|
Kamis
|
05-02-2015
|
Kelahan
bibit hijauan dan leguminosa,
Meriak dan
menginjak legum indigofera untuk
diambil bijinya,
Menampi biji
indigofera,
Diskusi
Penyusunan
ransum
|
07.30-16.00
|
9
|
Jumat
|
06-02-2015
|
Senam pagi
bersama pegawai BPTU-HPT Padang Mengatas,
Kelahan
bibit hijauan dan leguminosa,
Meriak dan
menginjak legum indigofera untuk
diambil bijinya,
Menampi biji
indigofera,
Diskusi
Penyusunan
ransum
|
07.30-16.00
|
10
|
Sabtu
|
07-02-2015
|
Sanitasi
kandang
Memberikan
hijauan dan konsentrat pada sapi,
Diskusi
bersama pembimbing lapangan,
|
07.30-12.00
|
11
|
Senin
|
09-02-2015
|
Sanitasi
kandang
Memberikan
konsentrat dan hijauan pakan pada sapi,
Menggiring
sapi yang akan di spraying,
Mengikuti
proses Inseminasi Buatan
|
07.30-16.00
|
12
|
Selasa
|
10-02-2015
|
Sanitasi
kandang,
Memberikan
konsentrat dan hijauan pakan pada sapi,
Menggiring
sapi yang akan di spraying,
Mengikuti
proses Inseminasi Buatan
|
07.30-16.00
|
13
|
Rabu
|
11-02-2015
|
Pemberian pakan
kosentrat sanitasi kandang
pemberian
pakan hijauan
menggiring
ternak ke kandang
penanggulangan
menggiring
sapi ke kandang restorasi
penyemprotan
spraying caplak pada sapi,
mengontrol
kandang.
|
07.30-16.00
|
14
|
Kamis
|
12-02-2015
|
Pengambilan
darah pada sapi,
Penyuntikan
vitamin sapi,
Pengukuran
syarat bibit sapi,
Sanitasi
kandang.
|
07.30-16.00
|
15
|
Jumat
|
13-02-2015
|
Senam pagi,
Pengobatan
sapi dengan obat,
Sanitasi
kandang
Penyuntikan
hormon Folikel Stimulating Hormone
pada sapi Transfer Embrio.
|
07.30-16.00
|
16
|
Sabtu
|
14-02-2015
|
Pengobatan
sapi yang terluka di bagian ekor,
Penyuntikan
hormon FSH
Sanitasi
kandang
pemberian
konsentrat dan hijauan
pengobatan
dan penyuntikan terhadap sapi yang sakit,
|
07.30-12.00
|
17
|
Senin
|
16-02-2015
|
Menggiring
sapi ke kandang restorasi,
Hari pertama pengambilan darah sebanyak lebih
kurang 400 ekor,
Sanitasi
kandang
Penyuntikan
obat vigantol E
|
07.30-16.00
|
18
|
Selasa
|
17-02-2015
|
Upacara
bendera merah putih
Sanitasi
kandang
Pemberian
konsentrat dan hijauan
Hari kedua
pengambilan darah pada sapi,
Mengikuti
proses belajar IB
|
07.30-16.00
|
19
|
Rabu
|
18-02-2015
|
Sanitasi
kandang
Pemberian
konsentrat dan hijauan
Merawat pedet
yang sakit,
Diskusi
bersama pegawai BPTU-HPT padang mengatas.
|
07.30-16.00
|
20
|
Kamis
|
19-02-2015
|
Libur
|
07.30-16.00
|
21
|
Jumat
|
20-02-2015
|
Senam pagi
Membersihkan
area parit
Menyapu
jalan
Diskusi bersama drh. Darwis,
Menyemprot
bagian tepi pagar plot 18
|
07.30-16.00
|
22
|
Sabtu
|
21-02-2015
|
Membersihkan
area tepi pagar di bagian plot-plot,
Diskusi
bersama drh. Darwis.
|
07.30-12.00
|
23
|
Senin
|
23-02-2015
|
Membersihkan
area tepi pagar di bagian plot-plot,
Diskusi
bersama pembimbing lapangan dan tanya jawab
|
07.30-16.00
|
24
|
Selasa
|
24-02-2015
|
Mengikuti
evaluasi mahasiswa/i Universitas Gadjah Mada
Diskusi
dengan drh. Indah wati,.
Mengambil
lempengan di pastura
|
07.30-16.00
|
25
|
Rabu
|
25-02-2015
|
Evaluasi
|
07.30-12.00
|
BAB
IV
HASIL DAN PEMBAHASAN
4.1.
Keadaan
Umum BPTU HPT Padang Mengatas
BPTU-HPT Padang Mengatas merupakan
stasiun peternakan yang didirikan oleh pemerintahan Hindia Belanda pada tahun
1916 dengan ternak
yang pertama kali dipelihara adalah ternak kuda. Pada tahun 1935 didatangkan
sapi zebu dari India dan berkembang dengan baik. Pada tahun 1945 - 1949
stasiun peternakan terhenti, dan tahun 1950 dibangun kembali oleh wakil presiden Dr.H.Moh.Hatta dan dijadikan kembali stasiun
peternakan pemerintah dan diberi nama
dengan nama Induk Taman Ternak (ITT) Padang Mengatas.
ITT Padang Mengatas pada tahun 1955 - 1957 merupakan stasiun peternakan yang
terbesar di Asia Tenggara dan ternak yang dipelihara adalah kuda, sapi, kambing
dan ayam. Kegiatan terhenti
pada tahun 1958 - 1961, karena dijadikan benteng pertahanan
PRRI dan kemudian tahun 1961 dibangun kembali oleh Pemerintah Daerah Sumatra
Barat.
Pemerintah
Republik Indonesia pada tahun
1974-1978 melakukan kerjasama dengan Pemerintah Jerman melalui proyek Agriculture
Development Project (ADP) untuk pengembangan peternakan. Ternak yang
dipelihara sapi simmental,Brahman dan Peranakan Ongole.
ITT pada tahun 1982 berubah nama menjadi Balai Pembibitan Ternak/Hijauan Pakan ternak (BPT/HPT) Padang Mengatas (SK
mentan 313 tahun 1982) dengan wilayah kerja 3 (tiga) propinsi. (Sumatera Barat, Riau dan Jambi). BPT/HPT Padang Mengatas pada bulan Mei
2013 berubah nama menjadi Balai Pembibitan Ternak Unggul Hijauan
Pakan Ternak (BPTU-HPT) Padang Mengatas.
4.1.1.
Lokasi dan Letak Geografis BPTU-HPT
Padang Mengatas berlokasi di Padang Mengatas, Kecamatan Luhak Kabupaten Lima
Puluh Kota, Propinsi Sumatera Barat. Berjarak ± 12 km dari pusat kota
Payakumbuh dan ± 136 km dari pusat ibu kota Sumatera Barat (Padang). Padang Mengatas berbatasan dengan: (1) Sebelah Utara berbatasan dengan
Kenagarian Mungo dan Bukit Sikumpar, (2) Sebelah Selatan berbatasan dengan Gunung Sago, (3) Sebelah Timur berbatasan dengan
Dusun Talaweh, (4) Sebelah
Barat berbatasan dengan Kenagarian Sungai Kamuyang Timur.
BPTU-HPT Padang
Mengatas memiliki luas areal 280 Ha, yang terdiri dari 268 Ha kebun rumput dan
pastura, 12 Ha untuk kandang, kantor, perumahan dan jalan lingkungan
dengan status tanah merupakan milik negara dengan bukti Erpacht Vervonding No. 202 & 207, sertifikat Hak pakai
Kementerian Pertanian No. 5 tahun 1997 Topografi bergelombang dan berbukit landai dengan
ketinggian 700 – 900
m dari permukaan laut, beriklim tropis dan temperatur mencapai 18º – 28 ºC (23 ºC), kelembaban 70% serta curah hujan 1800 mm/tahun. BPTU-HPT Padang Mengatas mempunyai jenis
tanah yaitu podsolik merah kuning dengan tekstur liat, pH 5,6 keadaan ini sangat
baik untuk pengembangan peternakan sapi.
BPTU-HPT
Padang Mengatas memiliki fasilitas yaitu
kantor, gedung pertemuan, aula, laboratorium, mess, rumah dinas, kandang,
gudang, bengkel, kendaraan roda 4, kendaraan roda 2, tractor, hand tractor, hand mower, trailer, mixer, deeping,
instalasi air minum, chopper, timbangan ternak, padang pengembalaan, kebun
rumput, dan komputer.
4.1.2. Populasi Ternak
Jenis sapi yang dipelihara di BPTU-HPT Padang
Mengatas yakni sapi Simmental,
Limousin dan Pesisir. Keseluruhan sapi yang diusahakan berupa sapi indukan
karena bidang usaha yang dilaksanakan di BPTU-HPT Padang Mengatas ini adalah pembibitan sapi unggul. Jadi
pemeliharaan induk yang dilakukan bertujuan untuk menghasilkan bibit atau bakalan
yang menjadi produk utama disamping produk lainnya yang berupa pupuk. Sapi-sapi
tersebut dikelompokkan yaitu pedet, dara, dewasa serta indukan bunting atau
menyusui.
Jumlah sapi yang terdapat di BPTU-HPT Padang
Mengatas sampai Januari 2015 seluruhnya adalah adalah 948 ekor. Jumlah ternak tidak selalu sama
karena jumlahnya selalu berubah tiap tahunnya. Kematian pedet lebih banyak
disebabkan karena abortus dan distokia yang terjadi di malam hari sehingga
tidak diketahui oleh karyawan kandang.
Perubahan jumlah sapi tergantung pada jumlah kelahiran, jumlah kematian dan
pergantian antara sapi dara dan sapi afkir.
4.1.3.
Struktur
Organisasi
Untuk menunjang kegiatan
operasional perusahaan sangat dibutuhkan struktur organisasi. Fungsi dari
struktur organisasi adalah untuk menentukan seorang tenaga kerja yang
bertanggung jawab terhadap pekerjaan dan kepada siapa ia harus melaporkan hasil
kegiatannya. Hal ini sangat
diperlukan agar setiap tenaga mengetahui hak dan kewajibannya yang sama. struktur
organisasi BPTU-HPT Padang Mengatas dapat dilihat di bawah ini dan gambar rekapitulasi pegawai di BPTU-HPT
Padang Mengatas :
Tabel
1.1. Struktur Organisasi BPTU-HPT Padang Mengatas.
Tabel
1.2. Rekapitulasi
Pegawai BPTU-HPT Padang Mengatas menurut Tingkat Pendidikan.
|
|||||||||
No
|
Tingkat
Pendidikan
|
Jumlah
(orang)
|
|||||||
1
|
Pasca
Sarjana
|
5
|
|||||||
2
|
Dokter
Hewan
|
4
|
|||||||
3
|
Sarjana
|
15
|
|||||||
4
|
Diploma
IV
|
3
|
|||||||
5
|
Diploma
III
|
6
|
|||||||
6
|
SMA
|
46
|
|||||||
7
|
SMP
|
4
|
|||||||
8
|
SD
|
5
|
|||||||
Jumlah
|
88
|
||||||||
Sumber: BPTU-HPT Padang Mengatas
(2015)
Tabel 1.3. Rekapitulasi Pegawai BPTU HPT Padang
Mengatas Menurut Golongan
Ruang
|
|||
No
|
Gol
|
Jumlah (orang)
|
|
1
|
Gol I
|
5
|
|
2
|
Gol II
|
34
|
|
3
|
Gol III
|
45
|
|
4
|
Gol IV
|
4
|
|
jumlah
|
88
|
||
Sumber: BPTU-HPT Padang Mengatas (2015)
4.1.4. Visi dan Misi BPTU-HPT Padang Mengatas
Visi:
1. Menjadi
pusat penghasil bibit sapi potong unggul nasional.
Misi:
1. Meningkatkan
populasi sapi potong.
2. Meningkatkan
produksi dan reproduksi bibit sapi potong.
3. Menyediakan
bibit sapi potong unggul yang bersertifikat.
4. Melakukan
distribusi bibit sapi potong unggul.
5. Meningkatkan
kualitas sumber daya manusia aparatur dan pelaku usaha sapi potong.
6. Melaksanakan
pelayanan teknis dan jasa di bidang sapi potong.
7. Menerapkan
inovasi teknologi sapi potong.
4.2. Manajemen Pemeliharaan
Di
BPTU-HPT Padang Mengatas sistem
pemeliharaan ternak terbagi menjadi dua yaitu pemeliharaan di kandang dan di
padang pengembalaan.
Ø Sistem pemeliharaan di kandang
Sistem pemeliharaan di
BPTU-HPT Padang Mengatas merupakan sistem pemeliharaan secara
ekstensif. Sistem pemeliharaan di kandang
hanya dilakukan untuk sapi pejantan unggul, induk yang mengalami gangguan
reproduksi, sapi melahirkan, pedet dan sapi yang dalam pengobatan. Sistem ekstensif digunakan untuk ternak sapi
induk produktif, induk bunting muda, sapi dara dan pedet lepas sapih yang
dilepaskan di padang pengembalaan.
Di BPTU-HPT Padang Mengatas
hanya terdapat beberapa kandang yang digunakan, karena sistem pemeliharaan
ternak adalah ekstensif dimana sapi digembalakan di pandang pengembalaan atau
pastura. Rincian kandang dapat dilihat pada tabel di bawah ini :
Table 1.4. Nama dan Fungsi
kandang di BPTU-HPT Padang Mengatas.
No
|
Nama
|
Fungsi
|
1
|
Kandang
1
|
Kandang pejantan dewasa serta tempat kawin alam.
|
2
|
Kandang
2
|
Kandang betina yang dalam penanganan adanya gangguan reproduksi.
|
3
|
Kandang
3
|
Kandang klinik atau tempat untuk sapi- sapi yang sedang sakit.
|
4
|
Kandang
4
|
Kandang yang sering digunakan untuk penelitian.
|
5
|
Kandang
5
|
Kandang jepit dan untuk penimbangan.
|
6
|
Kandang
6
|
Kandang
ternak pejantan muda.
|
7
|
Kandang
Utama (Ramayana)
|
Kandang
utama terbesar.
|
8
|
Kandang
Karantina 1
|
Kandang
untuk sapi yang mengalami sakit yang kronis.
|
9
|
Kandang
Karantina 2
|
Sebagai
kandang sapi yang mengalami sakit serta sapi yang baru
dibeli dari masyarakat
atau luar daerah.
|
Sumber: BPTU-HPT Padang Mengatas
(2015)
Kandang
yang ada di BPTU-HPT Padang Mengatas ini memiliki tipe kandang yang berbeda. Kandang 1, 2, dan
6 dengan tipe head to head, kandang 3 dan
4 dengan tipe tail to tail dan
individu sedangkan kandang 5 digunakan untuk kandang jepit dan penimbangan
ternak.
Kandang di BPTU-HPT
Padang Mengatas sesuai dengan pendapat Ngadiyono, (2007) dimana tipe kandang
berdasarkan bentuknya ada 2, yaitu kandang tunggal dan kandang ganda. Kandang
tunggal terdiri satu baris kandang yang dilengkapi lorong jalan dan selokan
atau parit. Kandang ganda ada 2 macam yaitu sapi saling berhadapan head to
head dan sapi saling bertolak belakang tail to tail yang dilengkapi
lorong untuk memudahkan pemberian pakan dan pengontrolan ternak.
Fungsi kandang adalah
melindungi sapi potong dari gangguan cuaca, tempat sapi beristirahat dengan
nyaman, mengontrol agar sapi tidak merusak tanaman di sekitar lokasi, tempat
pengumpulan kotoran sapi, melindungi sapi dari hewan pengganggu, dan memudahkan
pelaksanaan pemeliharaan sapi tersebut (Abidin, 2006).
Perkandangan di BPTU-HPT Padang Mengatas sering
berubah bentuk sesuai dengan tujuan pemeliharaan yang sekarang untuk
menghasilkan bibit sapi unggul dengan sistem pemeliharaan di pastura. Kandang
digunakan untuk sapi-sapi yang mengalami gangguan produksi, proses pengobatan,
proses breeding lainnya, seperti seleksi, penimbangan , dan lain sebagainya.
Untuk pesyaratan perkandangan di BPTU-HPT Padang
Mengatas sudah sesuai dengan persyaratan perkandangan dimana lokasinya jauh
dari perumahan, air mudah didapatkan, ventilasi
udara yang cukup lantai mudah dibersihkan. Tempat pakan dan
minum di kandang kurang efektif, dapat kita lihat tempat pakan dan minum berada
satu tempat yang dipakai bergantian yaitu dikandang 6, pada kandang 1 tidak
terdapat tempat minum, hanya menggunakan 1 ember berukuran kecil itupun tidak
mencukupi kebutuhan air minum sapi. Jadi, kandang yang baik adalah tersedianya tempat pakan dan minum yang memadai, sehingga
akan adanya keefektifan dan keefisienan dalam pemeliharaan dikandang.
Drainase atau
saluran air terutama pembuangan kotoran sudah cukup baik, dimana air kotoran
bisa mengalir dan tidak tertumpuk di selokan terlalu banyak. Selain itu feses yang terdapat dikandang dikumpulkan
yang kemudian ditebarkan ke plot
rumput gajah dengan cara menebarkan dijadikan
pupuk kompos yang tersedia di paddock – paddock.
Dalam sistem pemeliharaan di kandang terdapat
beberapa kegiatan rutin yang di lakukan BPTU-HPT Padang Mengatas dengan tujuan
untuk kebersihan kandang dan jauh dari bibit penyakit, diantaranya yaitu :
1.
Sanitasi Kandang
Sanitasi kandang di lakukan setiap hari
yang dimulai pada jam 7.30 pagi sampai selesai.
Sanitasi dialakukan untuk kenyamanan ternak dan juga memudahkan pekerja untuk
mengontrol ternak serta jauh dari penyakit. Sanitasi kandang dimulai dari
membersihkan sisa pakan dan minuman yang diberikan pada hari sebelumnya,
membersihkan feses di lantai
dan mencuci sisa feses yang terdapat di lantai.
Feses yang banyak terdapat di lantai
mengakibatkan lantai lincin dan mengakibatkan ternak jatuh sehingga bisa cedera
dan sulit untuk beraktifitas.
2.
Perawatan Ternak
Perawatan merupakan salah satu bagian
dari pemeliharaan ternak yang tidak dapat diabaikan begitu saja. BPTU-HPT
Padang Mengatas kegiatan merawat ternak
hanya dilakukan untuk sapi pejantan yang terdapat dikandang satu. Kandang
lainnya hanya digunakan untuk memberi kosentrat dan pengontrolan birahi
sehingga ternak hanya berada sementara dan tidak ada perawatan ternak. Perawatan dilakukan dengan
memandikannya agar terjaga kesehatan ternak dari kuman penyakit, parasit, dan
jamur yang bersarang di bulunya.
Ø Manajemen Pemeliharaan di Pastura
BPTU-HPT Padang Mengatas, pemeliharan di
pastura menggunakan sistem rotation
grazing dan memiliki padang pengembalaan yang sangat luas ± 240 Ha. Pembagian
padang gembala menjadi paddock yang
dilengkapi dengan tempat pakan dan minum untuk masing-masing paddock serta di keliling pagar kawat,
pagar listrik dan pagar hidup untuk menjaga ekosistem alam.
Gambar
1.1. Sapi di Pastura
Ternak yang ada di pastura di bagi
menjadi beberapa kelompok yaitu, induk beranak, anak lepas sapih, muda, dara,
induk bunting, induk kering kandang dan pejantan. Ternak ini hanya dibawa ke kandang di pagi hari pada jam 7.30 untuk
di berikan kosentrat dan di deteksi birahi serta kesehatan ternak. Setelah itu
ternak di kembalikan ke paddock yang
sudah ditentukan.
Di pastura ternak dapat makan secara adlibitum tanpa terbatas karena rumput
tersedia sepanjang waktu. Dengan sistem rotation
grazing ketersediaan akan hijauan dapat dikontrol dan ketersediannya tidak
akan berkurang.
4.2.
Manajemen
Pakan dan Pemeliharaan Hijauan Pakan Ternak (HPT)
Ø Penyediaan Pakan Hijauan dan
Konsentrat
A. Jenis
Pakan
Pakan yang diberikan pada ternak sapi
potong di BPTU-HPT Padang Mengatas terdapat 2 jenis, meliputi hijauan makanan
ternak dan konsentrat.
1.
Hijauan
makanan ternak
Ketersediaan pakan khususnya pakan
hijauan baik kualitas, kuantitas maupun kontinuitasnya merupakan faktor yang
penting dalam menentukan keberhasilan usaha peternakan ternak ruminansia. Hal
ini disebabkan hampir 90% pakan ternak
ruminansia berasal dari hijauan dengan konsumsi segar perhari 10 - 15% dari berat badan (BB), sedangkan sisanya adalah
konsentrat dan pakan tambahan (feed supplement).
Untuk pakan hijauan di BPTU-HPT Padang
Mengatas terbagi menjadi 2 tipe, yaitu:
a)
Hijauan Rumput
Penggembalaan dan Rumput Potong
Rumput adalah tumbuhan dari keluarga
graminae dan cyperaceae (teki-tekian),
baik yang dibudidayakan maupun yang tumbuh secara alami atau liar yang
mempunyai kandungan serat kasar minimal 18%
1.
Brachiaria decumbens (rumput BD)
Nama Umum : Rumput
BD
Nama lain :
Signal grass
Asal
dan Penyebaran:
Rumput ini berasal dari Uganda,
menyebar keseluruh daerah tropis termasuk Asia Tenggara.
Gambaran Umum :
Daun berbulu warna hijau tua,
perakaran cukup dalam, bunga berbentuk mayang bendera ,batang agak kasar, dan
beruas pendek, merupakan rumput pengembalaan yang baik, tinggi tanaman dapat
mencapai 1 meter.
Syarat Tumbuh :
Tumbuh baik dari 0 - 1750
mdpl. Cocok
untuk daerah tropis basah dan kering, dan tetap hijau sepanjang musim kemarau serta Dapat tumbuh pada berbagai jenis
iklim. Mampu
bertahan pada tanah-tanah dengan Ph rendah dan tidak subur dan tidak tahan terhadap genangan. Kandungan protein Rumput BD berkisar 8 – 10%, Produksi Hijauan Segar 100 - 150 ton/ha/tahun dan responsif terhadap pemupukan
nitrogen.
Budidaya :
Penanaman terutama dengan pols,
karena kualitas biji seringkali sangat rendah. Sebagai penguat teras ditanam dengan
jarak 20 cm, dan pemanenan
pertama umur 60 hari setelah tanam. Pada
musim hujan interval panen 40 hari dan musim kemarau 50 - 60
hari, serta tinggi
pemotongan 5 - 10 cm dari
permukaan tanah. Gambar Rumput BD
dapat dilihat pada gambar di bawah ini.
Gambar 1.2. Brachiaria decumbens (Rumput BD)
2.
Brachiaria humidicola (rumput BH)
Nama
Umum :
Rumpt
BH
Nama lain :
Kronivia grass
Asal dan
Penyebaran:
Rumput ini berasal dari Zimbabwe,
menyebar keseluruh daerah tropis termasuk Asia tenggara.
Gambaran Umum :
Daun berbulu warna hijau tua,
perakaran cukup dalam, bunga berbentuk mayang bendera, batang agak kasar,dan beruas pendek,
tumbuh membentuk hamparan lebat, tinggi tanaman dapat mencapai 1 meter.
Syarat Tumbuh:
Tumbuh baik dari 0 - 2000
mdpl, cocok
untuk daerah tropis basah dan kering, dan tetap hijau sepanjang musim kemarau. Dapat tumbuh pada berbagai jenis iklim, mampu bertahan pada jenis tanah dengan
kisaran yang luas dan kesuburan rendah
(mulai dari struktur ringan sampai berat dan pH 3,5 - 7 dan sangat tahan kering, tetapi juga
tahan terhadap genangan. Kandungan
protein rumput BH
kurang dari 10%, produksi
hijauan segar 100 - 150
ton/ha/tahun. Produksi
benih 200 kg biji/ha dan responsif
terhadap pemupukan nitrogen.
Budidaya :
Penanaman terutama dengan pols jarak
tanam 1 x 2
m, dengan biji 2 - 5 kg/ha. Sebagai penguat teras ditanam dengan
jarak 20 cm dengan pemanenan
pertama umur 60 hari setelah tanam. Pada
musim hujan interval panen 40 hari dan musim kemarau 50 - 60
hari. Tinggi
pemotongan bisa lebih rendah dari jenis-jenis brachiaria lain
dan
dapat ditanam bersama siratro, centrocema
dan yang paling baik dengan arachis. Gambar Rumput BH dapat dilihat pada gambar di bawah ini.
Gambar 1.3. Brachiaria humidicola (Rumput BH).
3. Rumput
Rhodes (Chloris gayana)
Nama Umum : Rumput
Rhodes
Nama lain :
Chloris gayana, Pioneer grass
Asal dan
Penyebaran:
Rumput ini berasal dari Afrika
Selatan dan Afrika Timur, kemudian meluas ke Afrika Barat sebelum menyebar ke
daerah tropis termasuk Asia Tenggara.
Gambaran Umum :
Daun halus tidak berbulu, panjang daun sekitar 50 cm dan lebar 0,5 - 1
cm. Tinggi tanaman bisa mencapai 1,5 m. Bunga berbentuk mayang
jari bewarna coklat keunguan, Batang bercabang lebat, Rumput menahun dengan perakaran sangat kuat,
penghasil biji yang produktif, Kadar protein kasar bervariasi seiring umur
tanaman dan berkisar dari 17 (%
BK ) pada daun yang masih muda sampai 3
% pada daun yang sudah tua.
Syarat Tumbuh :
Tumbuh dari daerah dekat permukaan
laut sampai 2000 mdpl di daerah tropis, dan sampai > 1000 m dpl pada daerah
sub tropis. Cocok untuk
daerah dengan curah hujan 650 - 1200 mm/tahun dan tidak tumbuh baik bila
curah hujan > 1800 mm. Tumbuh
pada hampir semua tanah yang berpengairan baik, kecuali pada tanah liat berat,
asalkan kesuburan tanah memadai. Tidak
tahan pada tanah dengan kadar Mangnesium (Mg) tinggi. Toleran terhadap jenis tanah dengan pH
6,5 - 7, tahan kekeringan, penggembalaan berat,
salinitas dan pada umumnya
tidak tahan terhadap naungan. Kandungan
protein kasar 8 - 9 % tergantung pada kultivar. Produksi Hijauan Segar 30 - 45
ton/ha/tahun, Karena
cepat menyebar, banyak digunakan sebagai tanaman pengendali erosi.
Budidaya :
Penanaman terutama dengan stolon
sehingga cepat menutup tanah. Ditanam dengan jarak 40 x 40
cm atau sesuai kondisi tanah. Pada
musim hujan interval panen 60 hari dan musim kemarau 50 - 90
hari. Tinggi
pemotongan bisa lebih rendah dari jenis-jenis brachiaria lain
dan dapat
ditanam bersama siratro dan centrocema. Pemanenan pertama umur 90 hari dan tinggi
pemotongan 5 - 10 cm dari permukaan tanah. Gambar Rumput Rhodes dapat dilihat pada gambar di bawah
ini.
Gambar 1.4. Chloris gayana (Rumput Rhodes).
4.
Rumput Benggala (Panicum Maximum)
Nama Lain
: Guinea
grass
Asal dan
Penyebaran :
Rumput ini berasal dari Afrika Timur
dan Afrika Tengah. Sekarang tersebar tersebar luas diwilayah tropis termasuk
Indonesia.
Gambaran Umum :
Tumbuh tegak, membentuk rumpun dengan
tinggi mencapai 1,8 - 3,6 m, perakaran kuat dan dalam, berumur
panjang, daun halus, panjang 30 - 50 cm, lebar 1 - 2
cm dan agak berbulu, bunga membentuk malai, tahan naungan, tahan api, batang
tebal dan keras.
Syarat Tumbuh :
Cocok untuk dataran rendah dan dataran
tinggi 1700 mdpl dengan curah hujan 600 - 1800 mm/tahun. Tumbuh baik pada pH tanah 5 - 8,
tetapi memerlukan tanah yang subur atau pemupukan. Cocok ditanam di lahan kering banyak
pohon dan dapat beradaptasi pada berbagai tipe tanah. Tumbuh sangat baik pada tanah dengan
kesuburan sedang dan tinggi dan drainase baik. Produktivitas haijauan segar rumput benggala bisa mencapai 100 - 150
ton/ha/tahu dengan kandungan protein kasar 7 - 14 %
tergantung pada umur panen.
Budidaya :
Penanaman dengan biji dan pols. Perbanyakan dengan biji 2,2 kg/ha jika
ditanam bersama tanaman lain, 6,7 kg/ha untuk tanaman murni. Jarak tanam 60 x 60
cm, disesuaikan dengan kondisi tanah. Pemanenan pertama umur 90 hari Interval
panen 30 - 40
hari pada saat musim hujan, dan 50 - 60 hari pada musim kemarau. Tinggi pemotongan 5 - 10
cm dari permukaan tanah.
5.
Rumput Gajah (Pennisetum Purpureum)
Nama
lain : Rumput Napier, Elephant grass
Asal dan
Penyebaran :
Rumput ini berasal dari Nigeria dan
tersebar luas diseluruh wilayah tropis. Masuk ke Indonesia pada akhir masa
penjajahan Belanda, sejak tahun 1926. Di Indonesia pada awalnya disebarkan
didaerah peternakan sapi perah di Jawa Barat, Jawa tengah dan Jawa Timur.
Gambaran Umum :
Tumbuhnya membentuk rumpun dan
perakarannya cukup dalam, rhizoma atau rimpang pendek serta pada umur 4 - 5 tahun kumpulan batang di bagian bawah
membentuk bonggol, batang tebal dan lunak, daun relatif besar, daunnya berbulu
lembut. Tinggi tanaman bisa mencapai 4 sampai 5 m. Kurang tahan terhadap
genangan, mampu bersaing dengan rumput lain. Bunga tersusun dalam tandan, tahan
kekeringan. Pada batang muda pangkal batangnya berwarna kemerah merahan.
Syarat Tumbuh :
Cocok untuk daerah tropik basah
dengan sinar matahari yang cukup, sampai ketinggian 3000 mdpl, dengan curah
hujan 1500 mm. Perlu
tanah bersolum tebal dengan kesuburan sedang untuk hasil yang lebih baik. Rumput ini dapat beradaptasi di berbagai
macam tanah, meskipun hasil panennya berbeda. Produktivitas cukup tinggi
mencapai 300 ton/ha pertahun dengan kondisi pemupukan yang optimal. Produksi per rumpun bisa lebih dari 7
kilogram (basah) per panen. Kandungan
protein rumput ini sekitar 7,6 %.
Budidaya :
Penanaman dengan pols dan stek,
panjang stek 20 - 30 cm (mempunyai dua mata tunas) dan jarak tanam 1 x 1 m, dapat
disesuaikan dengan kondisi tanah. Pemanenan
pertama umur 60 - 80 hari. Pada
musim hujan interval panen 30 - 40 hari dan 60 - 90 hari pada
musim kemarau. Rumput Gajah
dapat ditanam bersama jenis leguminosa
seperti centrocema pubescens dan lain
sebagainya. Gambar Rumput
Gajah dapat dilihat pada gambar di bawah ini.
Gambar
1.5. Rumput Gajah (Pennisetum purpureum).
6.
Rumput Setaria
Sphacelata
Nama
lain : Rumput Setaria, Golden Timothy
Asal dan Penyebaran :
Rumput ini berasal dari Afika
tropika dan sub tropik, sekarang sudah menyebar ke Australia dan Asia.
Gambaran Umum :
Tanaman ini berumur panjang, tumbuh
tegak mencapai tinggi 2 m dan membentuk rumpun. Pangkal batang berwarna
kemerah-merahan, daun lunak, lebar agak berbulu pada permukaann atasnya
terutama dekat batang. Bila kondisi baik satu rumpun bisa mencapai ratusan
batang. Rumput ini termasuk tanaman yang tahan kering dan teduh, serta genangan
air, tetapi yang lebih disukai adalah tanah yang lembab dan subur. Sangat
responsive terhadap pemupukan nitrogen.
Syarat Tumbuh :
Tinggi tempat 200 – 300 mdpl dengan struktur tanah sedang sampai berat. Curah hujan sekitar 600 mm/tahun atau
lebih. Di daerah dataran rendah, rumput ini
bisa tumbuh baik jika mendapatkan curah hujan yang cukup, lebih dari 1000
mm/tahun. Produksi
benih 112 kg/ha dan biji hijauan yang dihasilkan mencapai 60 – 100
ton/ha/tahun.
Budidaya :
Diperbanyak dengan menggunakan
biji 4 - 10 kg/ha dan sobekan rumput. Jarak tanam 70 x 90
cm, pemupukan
dengan pupuk organik atau buatan. Dapat
ditanam bersama leguminosa seperti Stylosanthes gracilis, Desmodium intortum,
lamtoro dan Siratro. Interval pemotongan 35 – 40 hari diwaktu
musim hujan dan 60 hari sekali dimusim kemarau.
7.
Rumput
Pennisetum Purpureophoides
Nama
Umum : Rumput Raja, King Grass
Asal dan
Penyebaran :
Rumput ini berasal dari persilangan
antara Pennisetum purpureum dengan Pennisetum typhodes. Pertama dilakukan
di Afrika Selatan. Di Australia dikenal dengan nama Pennisetum hybrid. Di introduksi ke Indonesia tahun 1980.
Gambaran Umum :
Rumput ini membentuk rumpun dan sistem
perakarannya cukup dalam, rhizome atau rimpang pendek, pada umur 4-5 tahun
perlu diremajakan karena bagian bawah membentuk bonggol. batang tegak, berbuku
keras bila sudah tua. Tinggi tanamannya bisa mencapai 1,8 – 4,5 m dengan
diameter batang 3 cm. Daunnya keras dan berbulu, panjangnya bisa mencapai 90 cm
dan lebar 8-35 cm dan bunganya berbentuk tandan serta tahan terhadap naungan.
Syarat Tumbuh :
Tumbuh baik di dataran rendah dan
tinggi, tetapi hasil terbaik di peroleh bila
ditanam di dataran rendah. Tanah harus subur, gembur dan tidak
tergenang air, tidak bercadas dan pH tanah 5-7. Curah
hujan di atas 1.000 mm /tahun. Toleran terhadap berbagai tanah, namun
lebih menyukai tanah berstektur ringan serta responsif terhadap pemupukan nitrogen.
Produktivitas dan
Kualitas :
Produktivitas mencapai 350-500 ton
bobot segar/ha/tahun Kandungan protein cukup tinggi dan bisa dijadikan bahan
pembuatan silase
Budidaya :
Untuk pengembangan bibit bisa
menggunakan stek. Panjang
stek 25-39 cm paling sedikit dua mata tunas dengan jarak tanam berkisar 100x100
cm. Pemanenan pertama umur 60 – 75 hari. Gambar Rumput Pennisetum
purpureophoides dapat dilihat pada gambar di bawah ini.
Gambar
1.6. Rumput Pennisetum purpureophoides.
b)
Leguminosa/ kacang-kacangan
Kacang-kacangan dalam formulasi pakan
hijauan mengandung nilai nutrisi tinggi dan dapat memperbaiki kesuburan tanah,
yaitu sebagai pupuk hijau, dapat diberikan ± 25 % dari jumlah kebutuhan hijauan
secara keseluruhan. Berikut kacang-kacangan yang sering diberikan kepada ternak.
1.
Stylosanthes
Guianensis
Nama umum : Stylo
Asal dan Penyebaran :
Legum
ini berasal dari Amerika Tengah dan Selatan
Gambaran Umum :
Stylosanthes
termasuk tanaman menahun yang tumbuh tegak atau agak rebah menyerupai semak.
Tinggi bisa mencapai ketinggian 100 - 150 cm. Batangnya kasar, berbulu serta
rimbun. Tanaman ini setiap tangkai berdaun tiga helai. Sistem perakarannya luas
masuk jauh ke dalam tanah. Bunga berwarna kuning.
Syarat Tumbuh :
Dapat tumbuh baik di daerah kering
maupun basah serta bisa tumbuh di tanah yang miskin unsur hara. Tahan terhadap tanah
asam dan tidak tahan terhadap naungan. Produktivitas dan kualitas hijauan
pertahun sekitar 40 ton/ha, kandungan protein ± 15,5 %, dan Produksi biji mencapai 300 kg
/ha/tahun.
Budidaya :
Ditanam
dengan menggunakan biji sekitar 4 - 6 kg/ha, jarak tanam 60 x 60
cm, setiap lubang bisa diisi 3 - 5 biji, Jika ditanam dengan stek, paling sedikit
stek mengandung 3 ruas batang yang panjangnya ± 30 cm, ditanam sedalam ± 20 cm. Penyiangan dilakukan saat tanaman masih
muda. Pemotongan pertama dilakukan saat
tanaman sudah menutupi tanah, yaitu 6 bulan setelah tanam. Pemanenan selanjutnya setiap dua bulan
sekali dengan meninggalkan pangkal batang setinggi ± 25 cm dari tanah. Tanaman ini bisa ditanam bersama rumput Panicum maximum, Paspalum Dilatatum.
2.
Centrocema
Pubescens
Nama
umum : Centro
Asal dan Penyebaran :
Legum
ini berasal dari Amerika Selatan dan sudah menyebar luas di Indonesia.
Gambaran Umum :
Termasuk
tanaman berumur panjang, batangnya tumbuh menjalar, memanjat dan bagian
ujungnya melilit. Batangnya agak berbulu, tidak berkayu. Bunganya berwarna
ungu, besar dan polongnya panjang, berdaun tiga helai berbentuk oval pada
setiap tangkai. Daun lebat, batang tidak berkayu. Centro tahan hidup dibawah naungan dan tahan kekeringan.
Syarat Tumbuh :
Centro
bisa hidup di tanah yang ringan dan sedang serta agak tahan terhadap tanah asam. Bisa tumbuh sampai pada ketinggian 0 –
1.000 mdpl, cocok
dengan curah hujan 1.300 mm/tahun atau lebih. Tumbuh
baik pada iklim tropis lembab
dan suhu tumbuh sekitar 27 0C. Produksi biji mencapai 300 kg/ha dengan
kandungan protein bisa mencapai 16,8 %.
Budidaya :
Perbanyakan tanaman dengan
menggunakan biji sekitar 3 - 5 kg/ha. Sebelum ditanam, biji direndam dalam air
panas selama ± 30 menit dengan jarak
tanam antar baris 1 – 1,5 m. Pada
saat tanaman masih muda perlu didangir dan disiang, agar pertumbuhannya lebih
cepat. Gambar Centrocema pubescens dapat dilihat pada gambar di bawah ini.
Gambar
1.7. Centrocema pubescens.
3.
Indigofera sp
Nama umum : Tarum,
Indigofera
Asal dan
Penyebaran
Indigofera
menyebar di Afrika, Asia, Amerika Utara dan dibawa ke Indonesia sekitar tahun
1.900.
Gambaran Umum :
Sebagian besar spesiesnya memiliki
daun berwarna hijau tua berbentuk oval, dan bunga kecil yang berkelompok
berwarna merah. Sekilas mirip dengan Gamal dan memiliki batang semi berkayu.
Umur panen daun 60 hari, tingginya bisa mencapai 3 - 4
m dan
tahan kekeringan. Tumbuh
ditanah berpasir dan lahan kritis (marginal) dan memerlukan sinar matahari langsung, air yang cukup. Cocok untuk daerah dengan curah hujan
sedikit. Nilai protein daun Indigofera bervariasi dari 25 - 28 % bahkan bisa sampai 31 %. Produksi hijauan sebanyak 3 kg/pohon
(interval potong 3 bulan).
Budidaya :
Dikembangkan dengan menggunakan
biji. Bibit dipindahkan dari persemaian
setelah berumur 30 hari. Penyiangan
dilakukan sebelum pemupukan serta pemanenan pertama Indigofera setelah berumur 4 bulan, interval pemanenan 90 hari. Gambar Indigofera sp dapat
dilihat pada gambar di bawah ini.
Gambar
1.8. Indigofera sp
4.
Sesbania grandiflora
Nama umum : Turi
Asal
dan Penyebaran
Turi berasal
dari Asia Tenggara
Gambaran Umum
Tanaman berbentuk pohon yang berumur
pendek, sejenis semak, tinggi bisa mencapai 15 m. Ranting menggantung,
cabangnya sedikit, bentuk buah panjang seperti kacang panjang dengan warna
hijau pada waktu masih muda, bunga ada dua warna yaitu merah dan putih. Buahnya
berbentuk polong yang panjang daunnya majemuk, kecil-kecil dan bulat.
Syarat Tumbuh :
Turi Cocok di daerah tropis yang
lembab. Tumbuh baik pada dataran rendah sampai
dengan ketinggian 800 mdpl serta toleran terhadap tanah basa dan agak asam. Peka terhadap suhu dingin dengan curah
hujan antara 2.000 – 4.000 mm/tahun. Tidak
tumbuh baik pada tanah kritis.
5.
Desmodium cinerea
Nama
umum : Desmodium rensonii
Asal dan
Penyebaran :
Tanaman ini berasal dari Brazil.
Saat ini sudah menyebar ke berbagai daerah di Asia termasuk Indonesia.
Gambaran Umum :
Desmodium
tergolong jenis leguminosa berumur
panjang, tumbuh mencapai 3 m, merupakan semak berumur pendek (2 - 3
tahun). Batangnya berkayu dan percabangannya sedikit Setiap tangkai berdaun
tiga helai. Tanaman ini toleran terhadap kekeringan ataupun genangan air.
Syarat
Tumbuh :
Paling cocok tumbuh pada tanah
netral atau agak asam dengan kesuburan sedang. Tumbuh
baik pada daerah beriklim tropis basah dengan musim kemarau yang singkat atau
tanpa musim kemarau. Dapat
tumbuh pada ketinggian 200 – 1.000 mdpl. Curah
hujan lebih dari 900 m /tahun.
Budidaya :
Tanaman ini harus ditanam dengan
biji yang disemai terlebih dahulu sebelum ditanam. Jarak tanam 1,5 x 1,5 m, penyiangan
dilakukan saat tanaman masih muda. Dapat
ditanam bersama Setaria, Pennisetum
purpureum, Panicum maximum.
2.
Konsentrat
Pakan
penguat atau konsentrat yang berbentuk seperti tepung adalah
sejenis pakan komplit yang dibuat
khusus untuk meningkatkan produksi dan berperan sebagai penguat. Mudah dicerna,
karena terbuat dari campuran beberapa bahan pakan sumber energi (biji-bijian,
sumber
protein jenis bungkil,
kacang-kacangan, vitamin dan mineral).
Pemberian konsentrat
perlu diberikan pada ternak untuk meningkatkan produksinya, dengan pemberiaan dan
komposisi yang sesuai dengan kebutuhan nutrisi ternak. Pemberian konsentrat
pada ternak sapi diberikan pada pagi hari sebanyak 1 – 3 % dari BB (bobot
badan).
Fungsi pakan penguat (konsentrat) adalah untuk
meningkatkan dan memperkaya nilai gizi pada bahan pakan lain yang nilai gizinya
rendah. Konsentrat yang digunakan adalah konsentrat hasil formulasi sendiri
dengan menyesuaikannya dengan kebutuhan ternak. Konsentrat ini diberi nama Matery
Feed dan telah diuji di laboratorium serta telah diperjualbelikan bila ada
pesanan. Kandungan nutrien dari konsentrat Matery Feed menurut Balai
Direktorat Jenderal Bina Produksi Peternakan terdiri dari air 9,58%, abu
10,16%, protein kasar 13,85%, lemak kasar 5,47% serat kasar 22,26%, Ca 0,55%
dan P 0,55%.
Formulasi atau menyusun ransum harus memperhatikan
kandungan zat-zat yang terdapat di dalam bahan makanan agar didapatkan susunan
ransum yang sesuai dengan kebutuhan ternak yang dipelihara. Hal tersebut harus
diperhatikan agar kebutuhan pokok, pertumbuhan dan produksi ternak terpenuhi.
Khusus untuk ternak bibit, kebutuhan reproduksinya harus selalu diperhatikan.
Bahan pakan yang digunakan untuk penyusunan ransum di BPTU-HPT Padang Mengatas
seperti terlihat pada tabel 1.5.
di bawah ini.
Tabel 1.5. Formulasi bahan
campuran konsentrat di BPTU-HPT Padang Mengatas
Bahan
Pakan
|
Persentase
(%)
|
Jumlah
( kg )
|
Dedak
|
40
|
770
|
Konsentrat
|
40
|
392
|
Bungkil
Kelapa
|
16
|
182
|
Cattle Mix
|
2
|
28
|
Garam
|
2
|
28
|
Jumlah
|
100
|
1400
|
Sumber : BPTU-HPT Padang Mengatas (2015)
Penyusunan ransum dilakukan dengan mencampur semua
bahan menjadi satu lalu diaduk dengan menggunakan mixer alat pengaduk untuk
mendapatkan suatu campuran yang homogen. Setelah semua bahan dicampur menjadi
homogen, lalu konsentrat tadi dikemas dengan menggunakan karung dengan ukuran ±
25 kg.
Selain hijaun dan kosentrat, di BPTU-HPT Padang
Mengatas juga memberikan Urea Mineral Molases Blok (UMMB) yang di buat sendiri
oleh pengawas mutu pakan. Pemberian disesuaikan dengan kebutuhan, yaitu di
letakkan di setiap kandang kemudian di gantikan pada saat sudah habis. Tabel formulasi UMMB dapat dilihat pada gambar di bawah
ini.
Tabel 1.6. Formulasi UMMB di BPTU-HPT Padang Mengatas
Bahan pakan
|
Jumlah (%)
|
a. Tepung
kanji
b. Dedak
c. Bungkil
kelapa
d. Urea
e. Garam
f. Kapur
g. Mineral
h. Molases
i.
Semen
|
15
33
10
1
3
10
5
13
10
|
Jumlah
|
100
|
Sumber : BPTU-HPT Padang Mengatas (2015)
Cara pembuatan UMMB :
·
Menimbang bahan-bahan yang dibutuhlan
dengan menggunakan alat penimbang.
·
Melarutkan garam dan urea dengan
menggunakan air secukupnya
·
Mencampurkan dengan rata dedak, tepung kanji,
mineral, bungkil kelapa, kapur dan semen
·
Mencampurkan bahan bahan pakan yang
telah tercampur rata kedalam larutan garam dan urea
·
Tambahkan sedikit demi sedikit molases
sebanyak 3 kg
·
Memasukan campuran pakan tersebut
kedalam ember kemudian memberikan pipa dibagian tengah ember agar terdapat
lubang dibagian tengahnya yang kemudian dari lubang tersebut untuk digantung
·
Mencetak UMMB dengan menggunakan ember
Pembuatan UMMB dapat
dikatakan berhasil jika
UMMB tidak pecah dan tidak terlalu lengket, serta setelah waktu 7 hari sudah bisa diberikan ke ternak sebagai permen
sapi. Teknis pemberian UMMB ialah
dengan cara meletakkan UMMB
di bagian pertengahan kandang, sedangkan untuk di padang penggembalaan diletakkan dekat tempat pakan ternak.
B.
Pemberian
Pakan Hijaun dan Konsentrat
BPTU-HPT Padang Mengatas memelihara sapi dengan
sistem ekstensif sehingga pemberian konsentrat hanya diberikan 1 kali sehari
pada jam 08.00 atau sebelum pemberian
hijauan. Pemberian hijauan di kandang hanya dberikan untuk ternak yang memiliki
perlakuan khusus yang diberikan pada jam
10.00 wib dan jam 14.00 wib sedangkan untuk ternak lainnya setelah pemberian
kosentrat dan pengontrolan kesehatan serta birahi ternak dikembalikakn ke
pastura. Hal ini sesuai dengan pendapat Siregar (2003) yaitu pemberian
konsentrat yang dilakukan 2 jam sebelum pemberian hijauan akan meningkatkan
kecernaan bahan kering dan bahan organik karena konsentrat yang relatif banyak
mengandung pati sebagian besar sudah dicerna oleh mikroorganisme rumen pada
saat hijauan mulai masuk ke dalam rumen.
Jenis hijauan yang diberikan untuk ternak yang
dikandangkan adalah Rumput Gajah cv.
Taiwan yang sudah diperkecil ukurannya dengan mennggunakan chopper. Hal ini dilakukan untuk meningkatkan palatabilitas, daya
cerna dan efisiensi pakan.
4.3.2.
Pengolahan/ Perawatan Hijauan Pakan Ternak (HPT)
a.
Tata
laksana budidaya hijauan makan ternak
Di BPTU-HPT Padang Mengatas melakukan tata
laksana budidaya hijauan pakan ternak sebagai berikut :
1. Pengolahan lahan
Pengolahan
lahan dimaksudkan untuk mempersiapkan media tumbuh bagi hijauan, melalui
beberapa tahap, yaitu: pembersihan lahan dari semak belukar, pembajakan dan
penggaruan (perataan tanah). Sebaiknya pengolahan dilakukan menjelang akhir
musim kemarau. Peralatan yang digunakan dapat berupa: Traktor, cangkul, garu
dan garu.
2.
Penanaman
Pola
penanaman hijauan yang umum dilakukan ada 3 cara penanaman yaitu:
a. Disebarkan:
terutama untuk biji atau benih di padang pengembalaan.
b. Dalam
larikan atau jalur-jalur dengan steak (panjang 2 buku ± 25 cm), pols (sobekan
rumpun), rhizome atau stolon (sobekan akar).
c. Dalam
gundukan, untuk tanah yang kurang subur dengan steak, pols dan rhizome.
Jarak
tanam tergantung pada jenis tanaman yang akan ditanam dan tujuan penanaman.
Untuk kebun rumput jarak tanam dapat 50 cm x 1,25 m atau 1,25 x 1,25 m. untuk
padang pengembalaan 30 x 40 cm.
3.
Pemupukan bertujuan untuk mempertahankan
atau memperbaiki kesuburan tanah dan meningkatkan produksi hijauan. Pemupukan
dapat dilakukan dengan cara menyebar pada permukaan tanah, ditanam dalam parit
atau ditanam disekitar rumpun tanaman. Jenis pupuk yang dipakai dapat berupa
pupuk organik (pupuk kandang) dan anorganik (pupuk buatan), seperti Urea,
TSP/SP 36 dan KCl. Jumlah pupuk yang dipakai untuk 1 ha lahan adalah: Urea :
TSP/SP36 : KCL= 2:1:1 = 50 kg : 25 kg : 25 kg, sedangkan untuk pupuk kandang
dapat dipakai 15 - 30 ton/ha/tahun.
4.
Perawatan tanaman
Perawatan dilakukan
dengan cara membersihkan tanaman dari gulma, menggemburkan tanah satu minggu
setelah tanam dan satu minggu setelah pemanenan atau pemotongan. Pengemburan
tanah perlu dilakukan secara teratur agar tata air, udara tetap terjaga dan
dapat mengurangi erosi.
5.
Pemanenan
Panen rumput pertama
dapat dilakukan setelah berumur 60 hari, dan pemotongan selanjutnya dapat
dilakukan setiap umur rumput 40 - 50 hari (sebelum berbunga). Tinggi
pemotongan dibuat 10 - 15 cm dari permukaan tanah dengan tujuan
untuk mempercepat tumbuh anakan.
6.
Peremajaan
Untuk menjamin kelangsungan
produksi rumput perlu diremajakan sebaiknya 5 - 7 tahun dengan demikian produksi hijauan
pakan ternak berproduksi secara continue ( terus menerus ) dan lahan tidak
kehilangan kesuburan.
7.
Pengukuran pH
Pengukuran pH bertujuan
untuk menentukan kondisi tanah untuk penanaman (asam atau basa). Hal ini
berkaitan erat dengan perlakuan terhadap tanah untuk penanaman rumput. pH
normal untuk penanaman rumput pakan adalah 6 - 7. Pengukuran dilakukan dengan pH meter.
Menurut Edo,(2012) Tanaman yang berkualitas tinggi
selain dari tata laksana ladangnya, yang harus diperhatikan adalah pelaksanaan
pemeliharaannya. Pemeliharaan diantaranya dengan cara pemberantasan siangan (weeds),
pendangiran dan pemupukan ulangan. Siangan yang tumbuh berupa rumput-rumput
liar atau tanaman - tanaman penganggu disingkirkan.
Pendangiran dilakukan guna untuk menggemburkan kembali tanah yang menjadi padat
akibat terjadinya hujan lebat. Pemupukan ulang berarti memberikan kembali pupuk
atau zat - zat
makan dalam tanah yang hilang pada tanaman agar perkembangannya semakin baik
dan juga memperbaiki struktur tanah tersebut.
b.
Kegunaan pakan
Kegunaan pakan terhadap ternak yaitu sumber kubutuhan hidup pokok dan
aktifitas kehidupan, sebagai pertumbuhan dan pengganti jaringan tubuh yang
telah rusak.Untuk memproduksi, menghasilkan daging, susu, dan anak keturunan
serta pupuk, tenaga kerja, kesehatan tubuh agar tetap sehat, kuat sehingga
dapat bertahan terhadap serangan penyakit.
c.
Cara pemberian pakan
Manajemen
pemberian pakan sangat berpengaruh kepada proses pencernaan sapi. Pemberian hijauan sebaiknya dilayukan dan
dicacah terlebih dahulu (di potong pagi, diberikan sore atau dipotong hari ini,
diberikan besok pagi, tujuannya adalah untuk mengurangi kadar air rumput dan
mengurangi atau membunuh parasit-parasit yang melekat pada rumput). Pemberian
hijauan dapat dilakukan 2-3 kali sehari dan untuk konsentrat dapat diberikan
1-2 kali sehari. Konsentrat sebaiknya
diberikan pada pagi hari sebelum pemberian pakan hijauan dalam keadaan kering
sehingga dapat memacu keluarnya saliva
yang akan berguna untuk membantu pencernaan di lambung.
Pemberian feed supplement atau mineral sebaiknya
ditaburkan pada rumput atau pada konsentrat (dedak, ampas tahu, dll), jangan
dicampur air minum. Namun yang perlu diperhatikan bahwa air minum sapi harus
tersedia sepanjang waktu (adlibitum).
BAB III
PENUTUP
5.1.
Kesimpulan
1.
Manajemen
pemeliharaan ternak sapi potong di BPTU-HPT Padang Mengatas meliputi
Pembibitan, Perkandangan, Pakan, Kesehatan Ternak, dan Reproduksi.
2.
Manajemen
Hijauan Pakan Ternak (HPT) di BPTU-HPT Padang Mengatas yaitu ada Penyedian
Pakan Hijauan dan konsentrat.
3.
Sistem
Pemeliharaan di BPTU-HPT Padang Mengatas, yaitu Semi Intensif (pastura) dan Intensif.
4.
Jenis
Hijauan Pakan Ternak di BPTU-HPT Padang Mengatas, yaitu Rumput Pengembalaan,
Rumput Potong, dan Leguminosae.
DAFTAR
PUSTAKA
Susetyo,.S.I.Kismono,.D,Soewardi,1969.Hijuan Makanan Ternak.Direktorat Jendral
Peternakan Jakarta.
Sutardi,
1981. Kandungan nutrisi hijauan pakan
ternak dan leguminosa. Penebar Swadaya. Jakarta.
Siregar, T., S. Riyadi, dan L. Nuraeni. 1989.
Budidaya, Pengolahan dan Pemasaran Coklat. Penebar Swadaya. Jakarta.
Sosroamidjojo, M.S. 1991. Ternak Potong dan Kerja.Yasaguna,
Jakarta
Darmono. 1992. Tatalaksana Usaha
Sapi Kereman. Kanisius : Jakarta
Mariyono,
U., Umiyasih, Tangendjaja., B. Musofie, A. dan Wardhani, N.K., 1998.
Pemanfaatan leguminosa yang mengandung tanin sebagai pakan sapi perah dara.
Pros. Sem. Nas. II. INMT. 171 – 172.
Talib,
C. dan A.R. Siregar. 1999. Faktor-faktor yang mempengaruhi pertumbuhan pedet PO
dan crossbrednya dengan Bos indicus dan Bos taurus dalam
pemeliharaan tradisional. Proc. Seminar Nasional Peternakan dan Veteriner.
Puslitbangnak. Bogor.
Murtidjo, B.A., 2001. Beternak
Sapi Potong. Kanisius. Yogyakarta.
Sarwono, B., dan Arianto H. B., 2002. Penggemukan
Sapi Potong Secara Cepat. Penebar Swadaya. Jakarta.
Siregar, S.B., 2003. Teknik
Pemeliharan sapi. Penebar Swadaya. Jakarta.
Prihadi, S. 2003. Manajemen Ternak Perah. Fakultas Peternakan. Universitas Gadjah
Mada. Yogyakarta
Sugeng, Y.B., 2005. Sapi Potong.
Penebar Swadaya. Jakarta
Abidin,
Z. 2006. Penggemukan Sapi Potong.
Agro Media Pustaka, Jakarta.
Ngadiyono,
N. 2007. Beternak Sapi. PT Citra Aji
Pratama, Yogyakarta
Sudarmono dan Sugeng, 2008. Sapi
Potong. Penebar Swadaya. Jakarta.
Priyono. 2009. Identifikasi Jenis Pakan Ternak. Tersedia
di http://www.ilmupeternakan.com/2009/06/identifikasi-jenis-pakanternak.html. diakses pada 22
maret 2014 jam 12.52 WIB.
Anonimus,
2010. Beternak Sapi Potong. Kanisius. Yogyakarta
Lampiran 1.1. Keterangan Plot-plot di BPTU-HPT Padang
Mengatas
No.
|
Nama
Plot
|
Luas
(Ha)
|
Kondisi
|
Keterangan
|
1
|
I
|
5,23
|
Baik
|
|
2
|
V
|
2
|
Baik
|
|
3
|
VI
|
2,5
|
Baik
|
|
4
|
VII
Barat
|
10,5
|
Baik
|
|
5
|
VII
Timur
|
4,66
|
Baik
|
|
6
|
VIII
|
5,09
|
Baik
|
|
7
|
IX
|
5,6
|
Baik
|
|
8
|
X
|
6
|
Baik
|
|
9
|
XI
|
8,7
|
Baik
|
|
10
|
XIIA
|
6,7
|
Baik
|
|
11
|
XIIB
|
8,9
|
Baik
|
|
12
|
XIII
Barat
|
6,09
|
Baik
|
|
13
|
XIII
Timur
|
5,2
|
Baik
|
|
14
|
XIV
Barat
|
6,09
|
Baik
|
|
15
|
XIV
Timur
|
6,7
|
Baik
|
|
16
|
XV
Barat
|
6,9
|
Baik
|
|
17
|
XV
Timur
|
8,9
|
Baik
|
|
18
|
XVI
|
10,5
|
Baik
|
|
19
|
XVII
Barat
|
5,43
|
Baik
|
|
20
|
XVII
Timur
|
5,73
|
Baik
|
|
21
|
XVIII
Barat
|
7,1
|
Baik
|
|
22
|
XVIII
Timur
|
10,62
|
Baik
|
|
23
|
XIX
A
|
6
|
Baik
|
|
24
|
XIX
B
|
7
|
Baik
|
|
25
|
XX
|
5,48
|
Baik
|
|
26
|
XXI
|
3,1
|
Baik
|
|
27
|
XXII
|
6
|
Baik
|
|
28
|
XXIII
|
3,53
|
Baik
|
|
29
|
A
|
2,9
|
kurang
baik
|
|
30
|
B
|
5,6
|
kurang
baik
|
|
31
|
C
|
4
|
kurang
baik
|
|
32
|
D
Barat
|
13,41
|
kurang
baik
|
|
33
|
D
Timur
|
15
|
kurang
baik
|
|
34
|
E
|
3,6
|
kurang
baik
|
|
35
|
FA
|
3,6
|
kurang
baik
|
|
36
|
FB
|
3,6
|
kurang
baik
|
Tidak ada komentar:
Posting Komentar